inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Kafan Yesus Kembali Diperdebatkan

Headline
istimewa
Oleh: Donny Andhika
Selasa, 24 November 2009 | 07:09 WIB
INLAH.COM, Jakarta - Peneliti Vatikan kembali menghidupkan perdebatan kuno menyangkut Shroud of Turin dengan menyebut tulisan samar di kafan itu membuktikan bahwa asli dari penguburan Yesus.

Barbara Frale, seorang peneliti di arsip Vatikan mengatakan dalam sebuah buku barunya ia menggunakan foto yang sudah disempurnakan melalui komputer menyangkut kafan itu, untuk memecahkan tulisan samar dalam bahasa Yunani, Latin dan Aram yang tersebar di seluruh kain.

Dia menegaskan kata-kata itu termasuk tulisan "(J) ESU (s) Nazarene" - atau
Yesus dari Nazaret - dalam bahasa Yunani. Itu, katanya, membuktikan teks bukan berasal dari abad pertengahan karena tidak ada Kristen pada waktu itu, bahkan pemalsu akan menyebut Yesus tanpa merujuk kepada keilahian.

"Bahkan seseorang yang berniat memalsu sebuah peninggalan akan memiliki semua alasan untuk menempatkan tanda-tanda keilahian pada obyek ini, "kata Frale.

"Seandainya kami menemukan 'Kristus' atau 'Anak Allah' maka kami akan menganggapnya sebagai pemalsuan, atau sebagai prasasti tanda berbakti. "

Di kain kafan itu membekas sosok seorang pria yang disalibkan, lengkap dengan darah
merembes dari tangan dan kaki, dan yang percaya citra Kristus menempel di kain linen itu pada saat kebangkitan-Nya.

Artefak yang rapuh dan dimiliki oleh Vatikan itu terkunci dalam ruang pelindung di katedral Turin dan jarang ditampilkan. Dengan ukuran panjang 13 kaki dan lebar tiga kaki, kain kafan ini pernah mengalami kerusakan parah termasuk dari api.

Gereja Katolik tidak membuat pernyataan tentang keaslian kain itu, tetapi mengatakan kain itu sebagai simbol penderitaan Kristus.

Perdebatan telah panjang di komunitas ilmiah. Yang skeptis mengatakan tes penanggalan radiokarbon pada tahun 1988 menunjukkan kain kafan itu dibuat dari abad 13 atau 14.

Tapi Raymond Rogers dari Los Alamos National Laboratory mengatakan pada tahun 2005 bahwa yang diuji adalah benang tambalan yang digunakan untuk memperbaiki kain kafan itu setelah terjadi kebakaran.

Rogers, yang meninggal tak lama setelah menerbitkan temuannya, menghitung kain itu berasal dari 1.300 sampai 3.000 tahun lalu yang merupakan era Yesus.

Studi yang lain, oleh Universitas Ibrani, menyimpulkan bahwa serbuk sari dan tanaman
Di gambar kain kafan menunjukkan berasal dari daerah sekitar Yerusalem kira-kira sebelum abad kedelapan.

Sementara surat samar tersebar di seluruh wajah pada kain kafan tidak diperhatikan peneliti karena hasil penanggalan tes radiokarbon. Frale mengatakan memperjelas kata-kata dari foto-foto yang disempurnakan dari kain kafan itu dan menunjukkan ke para ahli, mereka setuju gaya penulisan khas Timur Tengah pada abad pertama yang merupakan era Yesus.

Dia percaya teks ini ditulis di sebuah dokumen oleh petugas dan terpaku pada kain kafan di bagian wajah sehingga tubuh dapat diidentifikasi oleh kerabat dan dikuburkan dengan benar. [ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
1 Komentar
Nuroel @ Kamis, 5 Agustus 2010 | 17:41 WIB
semua hanya masalah waktu. tapi sayang, keangkuhan seringkali memalsukan kebenaran sejati. bukankah sesuatu itu dianggap hidup jika ia bernafas, dan hanya didunialah kita bisa bernafas.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.