INILAH.COM, Manila Sekelompok pria bersenjata menyerang konvoi aktivis dan jurnalis yang meliput pengumpulan surat suara pemilu Filipina. Tercatat 24 orang tewas dalam insiden itu.
Serikat Jurnalis Nasional mengatakan ada sekitar 10 jurnalis ikut konvoi itu, namun kami baru berhasil mengindentifikasikan satu orang yang tewas, papar Jubir Kepolisian filipina, Leonardo Espina, seperti dikutip AP, Selasa (24/11).
Masing-masing media yang mengirimkan jurnalisnya berkata belum bisa menghubungi wartawan mereka. Beberapa sudah khawatir para jurnalis itu tewas di tangan para pria bersenjata yang diduga militan.
Jika benar, maka inilah pembantaian jurnalis terbesar sepanjang masa, demikian pendapat asosiasi jurnalis berskala internasional, Reporters Without Borders (RWB) yang juga menyampaikan tugas meliput di Filipina memang berbahaya.
Kantor kepresidenan Filipina memastikan 24 orang tewas ketika konvoi diserbu pada Senin (23/11), dua di antaranya adalah pengacara. Konvoi itu terdiri dari 40 orang yang sebagian besar adalah pendukung calon gubernur Ismael Mangudadatu yang akan maju pada pilkada.
Militer melaporkan mereka dicegat oleh 100 pria bersenjata. Polisi menemukan 21 jasad, termasuk istri Mangudadatu dan dua saudarinya. Kini mereka masih mencari 16 orang yang hilang. [vin]