INILAH.COM, Jakarta - Kasus bailout Bank Century Rp6,7 triliun, berimbas besar pada penanaman investasi di Indonesia. Lalu, apakah nilai investasi nasional Rp 2.000 triliun per tahun tercapai?
"Bagaimana mungkin investor mau menanamkan modalnya di Indonesia, kalau belum ada kepastian hukum. Apalagi kita lihat otoritas keuangan dapat melakukan rekayasa terhadap penyelamatan sebuah bank," tukas pengamat ekonomi dan Direktur Eksekutif Econit, Hendri Saparini kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, untuk mendorong investasi, pemerintah harus mengerti minat dari investor. Ini berarti, jika dalam sebuah negara masih banyak kekisruhan hukum, akan sangat berpengaruh kepada kepercayaan penanam modal.
Hal ini menanggapi pernyataan Kepala BKPM Gita Wiryawan yang optimistis terhadap nilai investasi nasional sebesar Rp 2.000 trilun per tahun sehingga bisa berkontribusi dalam meningkatkan PDB dari 30% pada 2010 menjadi 35% di 2014.
Hendri menilai, permasalahan saat ini bukan terletak pada optimis tidaknya atas target yang sudah ditetapkan. Namun lebih menyangkut keseriusan pemerintah mencapai target tersebut.
Kalau pemerintah masih tidak memiliki grand strategy yang jelas, kita harus hati-hati, jangan-jangan malah mengikuti kemauan investor saja, dan kepentingan nasional kita jadi tergadaikan, ujar Hendri.
Ia pun berharap, agar tidak ada kesalahan seperti yang terjadi pada tim ekonomi periode 2004-2009, yang sangat optimistis, namun ternyata banyak menuai kegagalan. Ia pun mengambil contoh kasus privatisasi BUMN, yang malah membawa negara kepada keadaan yang negatif.
Sebaiknya harus ada strategi yang harus dimiliki pemerintah dalam menentukan arah kebijakan ekonomi bangsa ini. Jangan sampai malah menimbulkan efek negatif dalam pencapaian kepentingan nasional bangsa, ujarnya.
Masalah lain seperti infrastruktur, birokrasi, energi, konsistensi dan komitmen pemerintah terhadap investasi, juga harus menjadi perhatian serius untuk dapat mencapai target investasi nasional. Sehinga berkontribusi dalam meningkatkan PDB dari 30% pada 2010 menjadi 35% di 2014.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi instruksi kepada Kepala BKPM untuk menggenjot nilai investasi sebesar Rp2.000 trilun per tahun untuk mengejar target pertumbuhan minimal tujuh persen di 2014.
"Lakukan segala sesuatu untuk mencapai nilai investasi. Kita harapkan yang tiap tahunnya rata-rata mencapai Rp2.000 triliun. Sasaran itu dapat kita capai dengan kerja keras," kata Presiden Yudhoyono.
Presiden mengakui sasaran ini sangat berat apalagi dikaitkan dengan situasi perekekonomian dunia saat ini. Namun Presiden mengajak semua pihak untuk bekerja sekeras-kerasnya untuk mencapai sasaran pertumbuhan itu. "Untuk itu diperlukan penanaman modal baik dalam maupun luar negeri untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu," kata Presiden. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !