INILAH.COM, Jakarta Siang ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih melanjutkan pelemahannya. Koreksi saham BUMI memimpin pelemahan saham tambang dan saham grup Bakrie lainnya. Pada perdagangan Selasa (24/11) sesi pertama, IHSG

melemah tipis 4,914 poin (0,20%). Indeks LQ 45

juga turun 0,905 poin (0,18%) ke level 488,906. Perdagangan berjalan moderat dengan volume transaksi 3,156 miliar lembar saham, senilai Rp 2,163 triliun dengan frekuensi 50.086 kali. Sebanyak 50 saham naik, 110 turun dan 66 stagnan.
Sektor properti memimpin penurunan, dengan jatuh 1,9%, disusul sektor tambang yang terkoreksi 1,4%, kemudian konsumsi 0,5%, perdagangan 0,4% dan finansial 0,04%. Sedangkan beberapa sektor masih terpantau menguat, seperti perkebunan, aneka industri, infrastruktur, industri dasar, dan manufaktur.
Saham grup Bakrie mendominasi perdagangan, dengan saham PT Bumi Resources (BUMI) mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp708 miliar atau 32,7% dari total perdagangan siang ini.
Adapun BUMI ditutup turun 4,54% ke level Rp2.625, PT Energi Mega Persada (
ENRG) turun 5,3% ke level Rp270, PT Bakrie Telecom (
BTEL) melemah 3,06% ke Rp158 dan PT Bakrie & Brothers (
BNBR) turun 3,8% ke Rp102.
Budi Ruseno, Kepala Riset Bhakti Capital Securities memperkirakan, IHSG hingga sore nanti akan
mixed seiring bervariasinya bursa regional. Hal ini akibat harga minyak dunia yang pagi tadi turun 0,723% menjadi US$76,2 per barel
Secara teknikal, indeks akan bergerak pada kisaran
support 2.462 dan 2.500 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (24/11).
Perkembangan pasar juga tidak terlepas dari sentimen faktor internal yang masih variasi. Sisi positifnya, beberapa perusahaan pada triwulan ketiga mencatatkan kinerja baik dalam laporan keuangannya.
Tapi, di sisi lain proses kepastian hukum menyusul sikap Presiden Yudhoyono yang apatis terkait kisruh KPK-Polri-Bank Century direspon negatif oleh pasar. Padahal, pasar berharap SBY sendiri yang mengambil keputusan tegas, agar persoalan kisruh hukum antar lembaga negara itu segera tuntas, tukasnya.
Hal ini terefleksi pada perdagangan indeks di sesi pagi yang sempat menguat 10 poin ke level tertingginya 2.491,865, kendati sempat anjlok ke level 2.478,996. Artinya, pergerakan indeks masih variatif. Di sisi lain, nilai tukar rupiah

sempat juga melemah di atas 9.500 per dolar AS, ulasnya.
Menurut Budi, pasar masih aktif pada saham-saham sektor agribisnis dan penunjang infrastruktur. Namun, emiten-emiten tersebut masih menyisakan risiko besar karena pergerakan pasar
mixed. Investor pun menunggu perkembangan lebih lanjut.
Pasar masih sangat hati-hati memanfaatkan kedua sektor saham tersebut hanya untuk
trading, paparnya.
Dalam kondisi ini, saham-saham pilihannya adalah PT Astra Agro Lestari (
AALI), PT Bakrie Sumatera Plantations (
UNSP), PT United Tractors (
UNTR), PT Semen Gresik (
SMGR), dan PT Holcim Indonesia (
SMCB). Saya rekomendasikan
trading saja untuk saham-saham tersebut, pungkasnya.
Di sisi lain, Henan Putihrai memprediksikan, IHSG kemungkinan akan bergerak mixed. Minimnya insentif diperkirakan membuat investor melakukan
wait and see. IHSG hari ini kemungkinan akan bergerak pada kisaran 2.454/2.468-2.495/2.509, ungkapnya dalam riset hariannya.
Sedangkan dari teknikal, khususnya dengan menggunakan
candlestick chart, indeks membentuk pola
spinning tops. Secara teoritis, pola ini mengindikasikan
neutral lines.
Jika indeks hari ini benar-benar melemah, target penurunannya level 2.460 yang merupakan
support line CD dari
uptrend channel ABCD. Namun apabila indeks sanggup bertahan maka target kenaikannya adalah level 2.511 yang merupakan
upper line dari
bollinger band, paparnya.
Siang ini, beberapa saham yang turun harganya antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (
BBRI) yang melemah Rp50 menjadi Rp7.600, PT Aneka Tambang (
ANTM) turun Rp50 menjadi Rp2.350, PT Bank Mandiri (
BMRI) turun Rp 50 ke Rp 4.650, dan PT Adaro Energy (
ADRO) turun Rp 40 ke Rp 1.730. [mdr]