INILAH.COM, Bangkok - Pasar di Bursa Asia rontok dipicu anjloknya saham-saham perbankan Asia sebagai akibat kekhawatiran terhadap keuangan perbankan China. Peringatan peringatan bagi bank di China untuk mengontrol pinjamannnya juga menyeret saham-saham keuangan di Hong Kong.
Pelemahan bursa Asia ini juga disebabkan adanya isyarat kemiskinan di Jepang, di mana saham-sahamnya jatuh setelah kemarin pasar tutup. Dolar sedikit berubah terhadap yen dan euro. Harga emas juga turun dari rekor tertingginya dan harga minyak di bawah US$78 per barel.
Investor di Wall Street legah setelah mengakhiri kehilangan selama 3 hari bertutut-turut setelah keluarnya angka penjualan rumah AS yang naik 10% pada Oktober 2009.
Berita bahwa Bank Sentral China sedang memperingatkan perbankan nasionalnya untuk mengontrol pinjaman berskala besar dan membatasi kredit untuk mendukung pemulihan cepat negara itu dari resesi global.
"Bank Sentral sangat konsen terhadap pinjaman sektor properti," ujar Franics Lun, General Manager Fulbright Securities Ltd. di Hong Kong. "Jadi mereka harus mengerem untuk menghindari kemungkinan gelembung aset untuk jangka panjang," ujarnya.
Saham-saham di Indeks Nikkei 225

rata-rata anjlok 72,73 poin (-0,8%) ke level 9.421,53 dan Hang Seng

Hong Kong turun 48,61 (-0,2%) ke level 22.722,78. Saham-saham perbankan di Hong Kong sebagai dampak Bank China turun 2,1%, Bank Konstruksi China turun 1% dan HSBC turun 0,3%.
Begitu juga Indeks Kospi

Korea Selatan turun 0,9% ke level 1.604,66 dan Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,5% ke level 4.691,40 akibat turunnya saham bank dan perminyakan. Shanghai

China justru naik 0,1% ke level 3.342,28.
Dolar juga terlihat melemah ke 88,89 yen dari 88,97, sedang euro turun ke US$1,4946 dari US$1,4964. [cms]