INILAH.COM, Jakarta Beberapa sentimen positif diyakini akan mengangkat harga komoditas CPO dalam waktu dekat. Hal ini didukung aksi korporasi perseroan. Emiten di sektor ini pun menjadi makin prospektif. Salah satu pendukung industri CPO adalah bea keluar CPO Desember 2009 yang dipastikan tetap 0% atau sama dengan November. Hal ini akibat penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) sebesar US$623 per ton, lebih rendah November US$691/ton.
Dengan harga HPE Desember di bawah US$700/ton, maka tarif bea keluar CPO Desember ditetapkan 0%. Selain itu, harga CPO diprediksi dapat menembus level US$800 per ton pada akhir 2009.
Penguatan harga CPO terjadi seiring naiknya harga minyak mentah dunia, menyusul ekspektasi pemulihan ekonomi dunia. Energi menjadi fokus utama negara-negara di Asia, terutama yang menginginkan penguatan fundamental ekonomi untuk menopang pertumbuhan kuartal pertama 2010, kata analis komoditas PT Askap Futures Ibrahim.
Sementara analis PT Dongsuh Securities Ryan Ariadi masih merekomendasikan saham sektor CPO terkait ekspektasi kenaikan harga pada akhir tahun. Hal ini dipicu meningkatnya permintaan akan komoditas ini. Dengan demikian, kenaikan sektor CPO masih sangat potensial, ujarnya kepada
INILAH.COM, Selasa (24/11).
Menurutnya, saat ini China sedang dilanda badai, sehingga menambah timbunan cadangan energi mereka tiga bulan pertama tahun depan. Kebutuhan CPO di Asia akan menjadi penggerak harga komoditas ini. Misalkan saja kebutuhan CPO Jepang yang naik hampir 30% sepanjang tahun ini.
Terkait faktor kenaikan harga CPO, Ryan pun merekomendasikan beberapa saham, seperti PT London Sumatra (
LSIP) dan PT Astra International (
AALI). Emiten ini masih berpeluang menguat, tambahnya.
AALI menganggarkan capex 2010 sama dengan 2009, sebesar Rp1,4 triliun untuk membiayai pembangunan pabrik dan memperluas lahan tertanam kelapa sawit. Sebanyak 89% atau Rp1,25 triliun akan diambil dari kas internal. Sedangkan sisanya Rp150 miliar dari
standby loan.
Perseroan pada pertengahan 2010 juga akan membangun dua pabrik pengolahan kelapa sawit di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, dengan kapasitas 45 ton/jam. Nilai investasi untuk masing-masing pabrik diperkirakan Rp80-100 miliar. Rencana ini sejalan dengan target produksi AALI tahun depan sebesar 1,18 juta ton, naik 8% dibanding tahun ini.
Kedua pabrik akan mengolah CPO dari hasil kebun AALI seluas 12 ribu hektar, yang memproduksi tandan buah segar (TBS) 100-150 ribu ton per hari. Pembangunan pabrik tersebut sejalan dengan rencana AALI menggenjot produksi TBS. Alhasil, produksi CPO AALI juga bakal meningkat.
Sebelumnya Mandiri Sekuritas juga merekomendasikan saham LSIP, dengan target harga 12 bulan ke depan mencapai Rp9.000, Saya masih rekomdasikan beli untuk saham LSIP, ungkapnya.
LSIP masih menarik meski hanya mampu membukukan pendapatan bersih Rp 2,27 triliun pada sembilan bulan pertama 2009, atau turun 23,4%. Penurunan pendapatan terjadi lantaran anjloknya harga CPO dan karet dunia.
Otomatis, margin laba kotor LSIP merosot dari sebelumnya 48,8% menjadi 42,8%. Akibatnya, laba bersih mereka juga terpangkas sebesar 31,8% menjadi Rp489,32 miliar dari sebelumnya Rp717,87 miliar.
Padahal dari sisi produksi CPO, LSIP membukukan peningkatan 9% menjadi 267.400 ton. Untuk menggenjot produksinya, LSIP telah menyelesaikan pembangunan pabrik minyak sawit di Kalimantan Timur pada akhir kuartal ketiga lalu.
Sedangkan Samuel Sekuritas merekomendasikan
hold untuk UNSP yang sedang menfinalisasi aset Domba Mas Agroprima yaitu pabrik oleokimia yang dilepas PT Bank Mandiri (BMRI) dengan nilai investasi US$100-150 juta.
Domba mas sendiri memiliki kebun sawit 300 ribu hektar dengan luas tertanam 170 ribu hektar. Akuisisi itu dikabarkan dilakukan melalui anak perusahaan. Hold untuk UNSP, katanya dalam riset harian Selasa (24/11).
Sebelumnya UNSP juga memiliki rencana ekspansi di Liberia Afrika Barat melalui anak usahanya, Bakrie Liberia Plantation BV. Yaitu membangun pabrik CPO lahan sawit seluas 100 ribu heektar senilai US$2.500 per hektar, karet dan pembangkit listrik senilai US$200 juta.
UNSP sedang merancanakan kerjasama dengan International Finance Corporation (IFC), anak usaha bank Dunia untuk mendanai investasi tersebut. Investasi ini berjangka waktu 10 tahun, dan diperkirakan baru memberi manfaat bagi UNSP pada 2012.
Selain itu juga ada rencana ekspansi ke Vietnam dengan membuka lahan sawit dan karet dan mengincar lahan karet di Kamboja seluas 10 ribu hektar. Dari total investasi US$30 juta, perseroan sudah menyiapkan 20% atau US$6 juta dari kas internal sisanya dari investor asing.
UNSP mengatakan ekspansi ke luar negeri itu merupakan bagian dari upaya perseroan mencari kesempatan pengembangan, sebagai salah satu perusahaan multinasional di bidang perkebunan. [mdr]