Minggu, 27 Mei 2012 | 12:33 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kadin: Arah Kebijakan Investasi Tidak Jelas
Headline
istimewa
Oleh:
web - Rabu, 25 November 2009 | 13:34 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah dinilai tidak memiliki arah yang jelas untuk menarik investasi. Untuk menarik investasi, pemerintah justru meniadakan tarif impor barang modal.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) sekaligus pengusaha nasional Rachmat Gobel di Gedung Bappenas, Rabu (25/11) "Jadi jangan semua dibuka, investasi apa yang mau masuk perlu diperhatikan. Pemerintah lupa bagaimana dengan mesin-mesin yang dibuat di dalam negeri, bagaimana para pengusaha yang membuat mesin di dalam negeri. Kita tunggu saja nanti akan ada banjir mesin dari luar dan tunggu kehancuran industri dalam negeri," katanya.

Rachmat menambahkan, banyak investasi yang tidak memiliki nilai tambah bagi Indonesia yang hanya mengandalkan buruh murah. Hal ini dialami di Batam menaikan upah minimum regionalnya, maka banyak pengusaha elektronik yang hengkang. "Setelah saya cek ketika itu, sebagai Kadin yang juga mengurusi elektronik, ternyata itu perusahaan ecek-ecek yang memang mengandalkan buruh murah tadi, dan mengeruk keuntungan dari sana, tidak ada nilai tambahnya. Kalau seperti ini nilai tambahnya seperti apa," katanya.

Ia mengatakan, pemerintah jangan karena tersilau untuk menarik investasi, kemudian menampung semua perusahaan termasuk mereka yang memiliki teknologi yang sudah ketinggalan jaman. "Kalau yang seperti ini tidak menambah nilai tambah bisa membikin rumit nantinya, karena mereka memang mindahkan itu ke Indonesia karena tidak laku," katanya.

Di sisi lain, menurut dia, ada kesalahan persepsi yang terus dilontarkan terhadap beberapa industri. Misalnya, Pemerintah atau pejabat seringkali membicarakan tentang sunset industri. "Itu tidak benar, bukan industrinya yang sunset, tapi teknologinya. Misalnya untuk produk tekstil, itu akan kasihan si Industri, sebenarnya berpotensi tapi seolah-olah sudah redup, nah ini diincar oleh negara lain," katanya.

Ditegaskannya, sampai saat ini pemerintah tidak memiliki sebuah blue print yang jelas terhadap investasi, misalnya terkait teknologi dalam industri. "Misalnya soal industri apa saja yang padat teknologi, kemudian teknologi yang seperti apa, jangan sampai kita seumur-umur hanya menjadi industri assembling (perakit), bukan indutri yang membuat barang," katanya.

Berdasarkan pengalamannya, industri yang membuat barang sangat dihargai oleh negara lain. Ia mencontohkan ketika pihaknya akan memindahkan pabrik pembuat semi konduktor dari Singapura ke Indonesia. "Pemerintah Singapura langsung menemui kita, dia tanya apa yang dibutuhkan agar pabrik pembuat semi konduktor tetap berada disana. Akhirnya industri pembuatan tetap di Singapura, meski kita buat juga pabrik di Indonesia tapi untuk perakitan," ujarnya. [*/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.