INILAH.COM, Jakarta - Terpilihnya Irjen Pol Ito Sumardi Djunisanyoto menjadi Kabareskrim sempat mengagetkan banyak pihak, karena pernah tersangkut judi. Namun itu dibantahnya dengan menanggap sudah clear.
Ia mengatakan, tudingan dirinya membekingi para penjudi di Riau tidak lah benar. Apalagi ketika dirinya menjabat sebagai Kapolda. Selain itu, para penjudi tersebut bebas murni. Dijelaskan Ito, Kapolri juga sudah menyampaikan hal tersebut.
"Bahwa apa yang dituduhkan diisukan sama sekali itu tidak benar. Jadi kalau saya kan bicara seusai fakta. Bicara hukum ya berdasarkan fakta. Dan yang jelas yang diisukan sama sekali tidak benar," katanya di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Rabu (25/11).
Ia menyatakan, jabatan yang diapatnya kali ini, merupakan promosi. Dan posisinya lebih tinggi dari jabatan Kapolda. "Apapun yang menjadi kebijakan pimpinan itu, menjadi salah satu yang harus kita lakukan," ujar Ito.
Ito pernah menjabat Kapolda Riau pada Desember 2005 sampai akhir 2006. Kemudian ia berpindah menjadi Kapolda Sumsel, hingga Januari 2009. Untuk selanjutnya menjadi Koordinator Staf Ahli Kapolri.
Di tengah perjalanan karirnya yang relatif moncer, Ito pernah tersandung isu tidak sedap. Saat menjabat Kapolda Riau, pria yang dikenal kalem ini terseret dalam isu kasus judi. Dia sempat dituding menjadi beking judi.
Bahkan saat kasus ini mencuat, karena nyanyian seorang bandar judi yang tertangkap Polda Riau saat dipimpin Irjen Pol Hadiatmoko, pada Desember 2008, Mabes Polri saat itu sampai turun tangan melakukan pemeriksaan.
Berdasarkan keterangan Irwasum Komjen Pol Yusuf Manggabarani, telah dilakukan pemeriksaan 6 jenderal yang terdiri dari 3 Kapolda dan 3 wakapolda. "Nama-namanya yang berhak lebih berkepentingan kami, bukan kalian. Ada 3 Kapolda dan 3 Wakapolda yang dulunya masih berpangkat komisaris besar," jelas Jusuf saat ditemui di Mabes Polri pada 1 Desember 2008. [jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !