INILAH.COM, Jakarta - Usai dihibahkan, pemerintah berencana untuk menggabungkan dua anak usaha Bank Indonesia (BI) dengan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki latar sama.
Menurut Menneg BUMN Mustafa Abubakar, strategi penggabungan tersebut baru akan dikaji lebih lanjut, usai diserahkan ke pemerintah. "Nanti akan kita putuskan kalau sudah diserahkan ke Kementrian BUMN," ujarnya di Gedung DPR RI, Rabu (25/11).
Mustafa menjelaskan, strategi tersebut diperlukan karena bisa saling memenuhi. "Itu karena dalam mengembangkan itu kita butuh penjaminan dan pendampingan. Yang satu untuk penjaminan, Askrindo nanti dengan Jamkrindo bisa kita atur. Kemudian Bahana nanti bisa kita atur dengan Danareksa," paparnya.
Mustafa pun tidak meerasa kawatir, bila nantinya dalam penggabungan tersebut antar perusahaan tidak bersinergi. "Nanti apakah itu bersinergi atau masing-masing itu tidak perlu dikahawatirkan karena sudah satu atap," ujarnya.
Sementara untuk penghibahan dua perusahaan terkait, PT Askrindo dan PT Bahan Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) kepada pemerintah ini, Mustafa memasrahkannya kepada dewan. "Itu kita serahkan kepada DPR, terserah kepada Komisi XI kalau sudah clear, baru diserahkan ke pemerintah dan kita akan sambut dan akan kita perlakukan sama dengan BUMN lain," pungkasnya. [mre/cms]