INILAH.COM, London Lupakan berdesakan, kebakaran, dan serangan terorisme selama musim haji 2009. Sebab kali ini flu babi lebih mengkhawatirkan bagi para tamu Allah ini.
Departemen Kesehatan Arab Saudi kali ini lebih khawatir terhadap penyebaran virus H1N1 kepada 2-3 juta orang yang menunaikan ibadah wajib umat Muslim ini. Apalagi, sepanjang tahun sudah tercatat empat jamaah haji tewas karena virus yang lebih dikenal sebagai flu babi ini.
Korban adalah dua gadis dari Maroko dan Nigeria, serta dua pria dari Sudan dan India. Semuanya berusia 17 tahun. Kami juga mendeteksi beberapa kasus H1N1 di antara jamaah yang baru tiba, demikian pernyataan Depkes Saudi baru-baru ini.
Para korban tewas, menurut Depkes, sama sekali tidak menyuntikkan diri mereka dengan vaksin H1N1 meski pemerintah Saudi telah merekomendasikannya kepada siapapun yang berangkat haji tahun ini. Beberapa bahkan berangkat dengan penyakit yang mereka bawa, mulai dari kanker hingga gangguan pernapasan.
Dengan jumlah kematian global pengidap H1N1 ini yang mencapai hampir 6.800, pemerintah Saudi memiliki alasan untuk khawatir. Pasalnya, aktivitas ini dikhawatirkan bakal menjadi kontribusi terbesar dalam penyebaran flu babi secara global. Ahli kesehatan internasional pun merekomendasikan screening ketat jamaah haji.
Di puncak ibadah haji pada Jumat (27/11), diperkirakan kepadatan akan mencapai tujuh hingga sepuluh orang per tiga meter persegi. Situasi berdesakan itu dirasa menjadi lingkungan yang tepat untuk transmisi virus flu. Pemerintah Saudi memang sejak lama telah mencabut travel ban haji.
Ibadah haji adalah tanggung jawab yang besar bagi kami, tentu pemerintah telah membuat segala persiapan, ujar Jubir Keamanan di Depdagri Saudi, Jenderal Mansour Al Turki. Setiap tahunnya, negara penghasil minyak ini memang telah membuktikan diri dengan persiapan yang sangat matang.
Sebab itulah, depertemennya menjalin kerjasama dengan Depkes untuk mengundang 25 ahli kesehatan internasional, termasuk dari Pusat Kendali Penyakit AS (CDC) dan WHO. Saudi akan mempersiapkan diri untuk mencegah meluasnya pandemi karena ibadah haji.
Al Turki mengakui bergantung pada teknologi untuk mengawasi jamaah. Termasuk ratusan ribu kamera CCTV yang diawasi oleh operator selama 24 jam. Sejak 2008, Saudi juga menggunakan helikopter Sikorsky S-92 untuk visual langsung dari atas.
Kami akan memperketat pengawasan di bandara dan pelabuhan, beberapa fasilitas dan strategi, kata Dr Ziad Memish, Deputi Menkes Saudi. Hal ini, menurutnya, sangat penting karena musim haji bertepatan dengan siklus kedua flu babi di belahan bumi Utara.
CDC merekomendasikan Memish untuk menggunakan sistem alarm mobile yang mereka gunakan ketika badai Katrina beberapa bulan lalu. Sistem ini menggunakan fasilitas sistem navigasi satelit digital (global positioning system/GPS). Selain itu, juga mekanisme standard seperti sensor tubuh di bandara. Tim CDC akan berada di sini untuk memantau hingga musim haji usai, kata Memish.
Pemerintah Saudi juga telah memesan 11 juta dosis vaksin H1N1 dengan prioritas untuk pekerja pemerintah yang menangani jamaah haji. Mereka juga merekomendasikan calon jamaah untuk menyuntikkan diri mereka dengan vaksin sebelum memasuki wilayah Saudi. Rekomendasi yang terakhir ini jarang dipatuhi calon jamaah.
Memish baru saja merilis fatwa dari pemerintah yang memperbolehkan penggunaan masker wajah dan hand sanitizer yang mengandung alkohol untuk tindakan pencegahan. Sebelumnya, jamaah dilarang menutup wajah mereka atau melakukan kontak apapun dengan alkohol selama menunaikan haji. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !