INILAH.COM, Jakarta Jika Anda berniat melaksanakan kurban pada Idul Adha 1431 Hijriah ini, pastikan kesehatan ternak yang akan disembelih. Tujuannya, agar para mustahiq aman mengkonsumsinya.
Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Herry Suhardiyanto mengingatkan masyarakat untuk memilih hewan kurban yang sehat dan aman dikonsumsi saat Hari Raya Idul Adha kali ini.
Herry mengajak masyarakat mengonsumsi hewan yang betul-betul sehat. Daging yang sehat dinyatakan baik bila warna dan baunya normal, jika ditekan tidak lembek dan permukaannya tidak berlendir, katanya, baru-baru ini.
Guna menyukseskan misi sosial terkait penyelenggaraan hari raya Idul Adha, IPB mengirimkan 620 duta yang ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan kualitas kesehatan hewan dan daging kurban.
"Tim yang kami terjunkan diharapkan mampu menjamin hewan dan daging kurban yang akan diterima para mustahiq aman dikonsumsi," ujarnya. Menurut Rektor, tim yang diterjunkan diberi pembekalan dalam bentuk teori, praktik, dan pemutaran film yang dilaksanakan pada 21-22 November 2009.
Ratusan mahasiswa tersebut diterjunkan ke 11 wilayah di Jabodetabek yaitu DKI Jakarta (260 mahasiswa), Kepulauan Seribu (7), Kota Bogor (90 mahasiswa dan 30 dosen), Kabupaten Bogor (102 mahasiswa yang sedang mengambil gelar Dokter Hewan), Kota Depok (76), Kota Tangerang (56) dan 29 mahasiswa untuk Kota Tangerang Selatan.
Misi yang dibawa yaitu sosialisasi seruan IPB kepada masyarakat setempat terkait perlunya kehati-hatian dalam memilih hewan dan mengkonsumsi daging kurban. Menurutnya, Fakultas Kedokteran Hewan mempunyai peran unik yang tidak dimiliki fakultas-fakultas lain di IPB. Yakni melakukan tugas yang langsung dibutuhkan masyarakat," paparnya.
Drh Trioso Purnawarman, dari Fakultas Kedokteran Hewan menambahkan, empat jam setelah hewan qurban disembelih daging harus sudah diterima para mustahiq. Hal ini dikarenakan jika terkontaminasi dengan satu saja mikroorganisme jahat dalam waktu lebih dari empat jam akan menjadi 1 juta mikroorganisme.
Menurutnya, IPB telah melakukan kegiatan ini sejak 20 tahun yang lalu. Diharapkan tahun depan, IPB bisa mengirim tim ke Balikpapan untuk misi yang sama di 300 titik di wilayah itu.
Sementara itu, Dinas Pertanian Kota Bandung dan Dinas Peternakan Jawa Barat, menggelar pemeriksaan hewan kurban yang akan dipasarkan kepada masyarakat di beberapa penjual hewan kurban di Kota Bandung.
"Hal ini dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat yang akan melaksanakan ibadah kurban," kata Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Hewan Dinas Pertanian Kota Bandung, Sulistiyowati, kepada wartawan di Bandung.
Hewan kurban tersebut dinyatakan layak disembelih apabila memenuhi dua kriteria yang ditentukan yaitu layak menurut kesehatan dan layak menurut persyaratan agama. Hewan yang dinyatakan layak kesehatan, yakni hewan yang sehat secara fisik. Seperti, tidak mengidap antraks, bulu dan matanya berwarna cerah, lincah, suka makan, dan tidak memiliki luka.
Sedangkan layak menurut agama, adalah hewan berumur lebih dari satu tahun, tidak cacat, baik tanduk, ataupun badannya. "Biasanya hewan yang mengidap antraks akan mati mendadak, sebab hewan yang terkena bakteri ini bersifat akut. Ciri-ciri hewan terkena antraks adalah akan mengeluarkan darah dari semua lubang limpa," ujarnya.
Ia mengungkapkan, Kota Bandung sendiri hingga saat ini masih terbebas dari antraks, oleh karena itu masyarakat tidak perlu khawatir. Sedangkan untuk daerah yang merupakan endemi antraks, antara lain Bogor, Depok, Purwakarta dan Karawang.
Hewan yang dinyatakan layak untuk dikurbankan, lanjutnya, akan diberi label sehat dari dinas pertanian. Pada 2009, Dinas Pertanian sendiri menyiapkan 22 ribu label sehat. Namun diprediksi, tahun ini jumlah penjualan sapi meningkat dibandingkan kambing.
Ketika dilakukan pemeriksaan hewan kurban, ternyata masih ada hewan yang tidak sehat dan belum cukup umur yang diperdagangkan. Padahal, sebelumnya sudah disosialisasikan tentang ciri-ciri hewan yang layak dikurbankan.
Salah seorang penjual kambing, Ujang Karta (50) mengaku, tidak mengetahui kriteria kambing yang sehat dan belum cukup usia untuk dijadikan hewan kurban. "Saya mengambil kambing ini 25 ekor dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, dan tidak tahu kalau ada kambing yang sakit dan belum cukup umur. Kambing yang saya jual rata-rata sekitar Rp1-1,5 juta," katanya.
Dinas Pertanian menyarankan, masyarakat yang akan membeli hewan kurban lebih baik memilih hewan yang didatangkan dari daerah Garut, Majalaya, Majalengka dan Ciparay, karena daerah tersebut bebas dari penyakit antraks. [mdr]