INILAH.COM, Jakarta - Jika tak ada aral melintang, perdagangan bebas Asean-China alias AC-FTA (AseanChina Free Trade Area) akan diberlakukan tahun depan. Tetapi 10 sektor industri menyatakan menolak diberlakukannya perdagangan bebas tersebut.
Penolakan itu tertuang dalam surat yang dilayangkan para pengusaha kepada Komisi IV DPR-RI, belum lama ini. Selama ini, berbagai pajak dan bea masuk yang dikenakan masing-masing negara mencapai 50% dari total biaya.
Dengan dihapusnya berbagai bea tersebut, tentunya harga jual produk-produk dari Asean dan China akan menjadi murah. Harapannya, produsen lokal di negara-senara anggota Asean dapat menikmati pasar di negara China.
Sepintas lalu, kesepakatan akan menguntungkan Indonesia karena memiliki bahan baku yang melimpah serta tenaga kerja murah. Tetapi di mata para pengusaha ternyata tidak seperti itu.
Di sektor petrokimia, misalnya. Akibat serbuan produk petrokimia impor, diperkirakan kapasitas industri nasional di sektor ini akan melemah dari 89,1% saat ini menjadi 50% di 2010. Nasib serupa juga akan dialami industri baja/besi, kain/benang, hortikultura, makanan, alas kaki, elektronik, kabel, serat sintetis, dan mainan.
Dengan diberlakukannya AC-FTA, memang, harga barang-barang menjadi lebih murah. Untuk produk elektronik, misalnya, penurunan harga itu akan berkisar antara 20-30%.
Kondisi ini mau tak mau akan memaksa produsen elektronik nasional mengoreksi harga jualnya. Makanya, untuk bisa bertahan hidup, produsen lokal harus melakukan efisiensi dan meningkatkan kemampuan riset dan pengembangan produk-produknya.
Namun, ya itu tadi, sepuluh sektor industri mengaku tak akan mampu bersaing dengan produk-produk impor. Karena itu, para pengusaha tersebut menolak diberlakukannya perdagangan bebas. Masalahnya, Indonesia tak mungkin mundur dari kesepakatan AC-FTA.
Pemerintah sendiri masih sampat saat ini masih akan mempelajari kekhawatiran para pengusaha itu. Kita akan lihat, seperti apa dampak AC-FTA terhadap industri nasional, kata Budi Setyanto, Puslitbang Departemen Perindustian. [mdr]