INILAH.COM, Jakarta - Pengacara Anggoro Widjojo, Bonaran Situmeang mengaku telah ditikam dari belakang oleh Ketua Tim 8, Adnan Buyung Nasution. Jauh sebelum Tim 8 terbentuk, Bonaran mengaku telah dijanjikan banyak hal oleh Adnan Buyung.
Saat ditemui di Hotel Peninsula, Jakarta, Rabu malam (25/11), Bonaran Situmeang mengatakan bahwa jauh sebelum Tim 8 terbentuk, dia sudah berkomunikasi secara intensif dengan Adnan Buyung Nasution. Bagaimana kejadiannya? Inilah testimoninya?
Anda beberapa kali menyebut pernah bertemu dengan Ketua Tim 8, Adnan Buyung Nasution. Memangnya Anda punya hubungan khusus dengan Bang Buyung?
O, tidak. Saya tidak punya hubungan khusus dengan Adnan Buyung. Saya bertemu dia waktu saya tanda tangan izin sidang. Dalam menangani perkara ini, saya tidak punya hubungan khusus dengan Adnan Buyung. Kalau kita pernah bertemu lagi, itu karena saya dibawa oleh Indra Sahnun Lubis ke rumah Adnan Buyung untuk diskusi memohon arahan sehubungan dengan kasus (Anggoro) ini.
Nah, waktu itu dia cerita bahwa dialah orang yang menyelamatkan Syamsul Nursalim sampai lolos. Apa yang saya dengar itu, membuat saya jadi tertarik? Akhirnya saya setuju. Nah, waktu itu dia minta untuk ketemu dengan Anggoro, kemudian saya katakana boleh bang. Apa yang harus saya persiapkan? Ongkoskah? Hotelkah? Penginapan kah? Karena waktu itu dia bilang bahwa dia yang membebaskan Syamsul Nursalim. Padahal, Syamsul itu koruptor? Nah, saya juga bangga, hebat juga ini Adnan, mau dong kalau begitu.
Makanya, sejak saat itu akhirnya dia minta tolong antarkan ini, tolong antarkan itu. Saya ketemu tidak satu dua kali. Tapi banyak.
Nah, menurut saya, kalau dia orang memang tidak mau bantu, ya bilang dari awal. Bukan seperti sekarang ini. Setelah kita kasih semua berkas, setelah semuanya kita utarakan pada dia, kemudian dia malah berbelok menikam Anggoro Widjojo. Kan tidak benar dong? Dimana kode etiknya orang itu? Kalau dia dari awal tidak mau bantu, ya sudah bilang saja tidak mau karena Wantimpres, kan gitu!
Berarti, Anda merasa dibohongi?
Merasa dibohongi. Ditipu, bahkan! Saya dijanjikan setelah petemuan di Singapura, saya dijanjikan Anggoro akan diselamatkan dengan membawa Anggoro dari Singapura lalu ditaruh di Kejaksaan, nanti. Kata Adnan, nanti biar saya bicara dengan Hendarman Supandji.
Ternyata?
Saya kadang-kadang malah berpikir, apa karena saya nggak pernah kasih duit, terus terang saya ngga pernah kasih duit. Tapi, barangkali apa memang karena itu?
Tapi, berbaliknya Adnan Buyung itu menimbulkan pertanyaan besar buat saya, apa saya nggak kasih duit? Memang dia tidak pernah minta dan saya tidak pernah kasih. Tapi berbaliknya seseorang dari yang semula ingin bantu kita jadi menikam kita, itu menimbulkan pertanyaan nggak?
Jadi, Bang Adnan Buyung memang mau bantu?
Iya, dia mau bantu. Saya antar satu set radio ke dia, karena dia bilang tuduhan yang diperoleh dari KPK bahwa radio yang dipasang di proyek itu cassingnya Motorolla, tapi isinya buatan China. Sehingga, saya bilang, saya bawa aja deh. Tapi, sampai sekarang masih sama dia. Saya juga bingung, kenapa tidak dikembalikan itu radio sama saya sampai sekarang. Padahal mahal itu radio, puluhan juta.
Makanya saya bingung, kita sudah ditinggalin, radio nggak dikembaliin. Itu harganya sekitar Rp 30 juta.
Nggak pernah nanya ke Bang Buyung?
Nggak lah, capek saya. Harusnya dia dong yang kembaliin.
Selama ini, Anda mengenal Bang Buyung seperti apa?
Secara pribadi atau secara khusus, tidak pernah. Saya selalu sama Indra Sahnun Lubis, karena dia yang bawa saya.[ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !