Rabu, 23 Mei 2012 | 01:46 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Berkurban Sambil Berdayakan Peternak
Headline
inilah.com /Dokumen
Oleh: Ahmad Munjin
web - Kamis, 26 November 2009 | 21:56 WIB
INILAH.COM, Jakarta Selama ini jual beli hewan kurban semata transaksi biasa yang tidak memberi dampak maslahat jangka panjang. Padahal, Idul Adha bisa dijadikan momentum pemberdayaan.
Lihat saja apa yang diprakarsai Lembaga Amil Zakat Swadaya Ummah. Lembaga sosial ini telah berhasil memadukan ibadah kurban dengan pemberdayaan ekonomi terutama peternak. Swadaya Ummah berhasil menyediakan harga sapi murah dengan kualitas baik sesuai persyaratan kurban baik dari sisi kesehatan maupun berat hewan ternak.
Memberdayakan peternak sekaligus menjalankan perintah kurban, kata Dwi Purwanto, Direktur Eksekutif Lembaga Amil Zakat Swadaya Ummah dalam perbincangan telepon dengan INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (26/11).
Lebih jauh Dwi mengatakan dana kurban yang berhasil digalang pada Idul Adha 1430 Hijriah yang jatuh pada Jumat (27/11) kali ini telah mencapai Rp121 juta. Semuanya dalam bentuk uang tunai. Dana ini dikelola langsung dan dikonversi dalam bentuk kambing dan sapi. Sehari menjelang Idul Adha sudah mencapai 18 kambing dan 16 sapi, ujarnya.
Namun, hari H pun, pihaknya masih menerima donatur kurban. Karena itu, hingga hari H akan bertambah terutama untuk kurban kambing. Kambing atau sapi sudah disesuaikan dengan ketentuan kurban. Jumlah sapi dan kambing untuk tahun ini hampir imbang, ucapnya.
Sesuai aturan, satu ekor sapi diperuntukkan bagi tujuh pekurban. Namun demikian, karena dana kurban dikelola dengan tujuan pemberdayaan, harga sapi untuk tahun ini tidak mengalami kenaikan pada level Rp7 juta per ekor. Hal ini berbeda dengan harga kambing yang mengalami peningkatan Rp100 ribu per ekor, karena belum masuk dalam pemberdayaan.
Peningkatan dari Rp900 ribu pada Idul Adha tahun lalu menjadi Rp1 juta di tahun ini untuk kualitas nomor satu, ucapnya. Kenaikan harga kambing karena Swadaya Ummah belum memberdayakan para peternak kambing. Swadaya Ummah masih mengambil dari peternah besar.
Sedangkan untuk sapi tidak terjadi kenaikan harga karena dikelola dalam bentuk pemberdayaan peternak. Tujuannya adalah berkurban, sekaligus memberdayakan peternak. Karena itu, kita mengambil dari peternak-peternak kita. Jadi sekaligus memberdayakan mereka, satu kurban dua manfaat, timpalnya.
Harga Rp7 juta sapi per ekor atau Rp1 juta untuk masing-masing 7 pekurban sudah termasuk biaya operasional mulai dari pendistribusian, dokumentasi, hingga pelaporan. Karena itu, untuk sapi, yang menentukan harga adalah kita sendiri sehingga tidak terjadi kenaikan harga, ungkapnya.
Pemberdayaan semacam ini sangat menguntungkan bagi pekurban dengan harga yang realtif murah tapi kualitas baik dari sisi kesehatan dan berat sapi sesuai dengan standar kurban. Sapi dikelola oleh Swadaya Ummah sendiri bersama-sama dengan peternak.
Pihaknya, mempekerjakan 15 peternak yang masing-masing memelihara 2-4 ekor sapi. Keseluruhan, mencapai 50-an sapi. Dari 50 sapi itu hanya 16 sapi yang laku terjual untuk tujuan kurban. Selebihnya, akan terserap oleh pasar pedaging, rumah makan sate, restoran, maupun konsumsi masyarakat sendiri untuk harian, imbuhnya.
Swadaya Ummah berbagi hasil dengan peternak dengan perimbangan 60% untuk peternak dan 40% untuk Swadaya Ummah. Dana yang diterima Swadaya Ummah digulirkan kembali ke peternak, paparnya.
Karena itu, 40% dana dari peternak bukanlah sebagai pendapatan pengelola Swadaya Ummah. Semuanya digulirkan kembali ke peternak lain yang membutuhkan sebagai tambahan investasi.
Swadaya Ummah mengelola administrasi, pendampingan, dan membantu sistem pemasaran. Berkurban sekaligus pemberdayaan peternak. Padahal berkurban biasanya, hanya jual beli biasa dan tidak berdampak jangka panjang, pungkasnya.
Di lain pihak, Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa Republika (DDR) pada 2009 ini telah berhasil menghimpun dana kurban senilai Rp9,4 miliar. Tahun ini memasuki periode yang ke-15 kalinya. Sejak dimulai pertama kali di 1994, jumlah pekurban yang ikut serta dalam program THK terus meningkat dari tahun ke tahun.
Di 1994 tercatat jumlah pekurban adalah 700 orang dengan jumlah hewan kurban 644 ekor kambing dan 8 ekor sapi. Pada 1995 dan seterusnya, angka ini terus melonjak. Tahun lalu, jumlah pekurban 17.624 orang dengan hewan kurban sebanyak 14.028 ekor kambing dan 488 sapi.
Untuk tahun ini, THK menargetkan menebar 20.000 ekor kambing dan 500 ekor sapi kurban ke seluruh penjuru negeri. Angka ini hingga penyembelian hewan kurban Jumat (27/11) diharapkan bisa dicapai bahkan dilampaui. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.