INILAH.COM, Jakarta Idul Adha bukan hanya pemotongan hewan kurban melainkan menyembelih sifat kebinatangan dalam diri manusia termasuk sifat koruptif. Kurban bermakna menyembelih koruptor.
Mohammad Asrory Mulky, Peneliti Muda Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Univesrsitas Paramadina mengatakan makna spiritual kurban adalah pendekatan, kepasrahan, dan kepatuhan secara total kepada Tuhan.
Sedangkan makna sosialnya adalah bukan hanya penyerahan diri kepada Tuhan melainkan juga penyapaan pada sesama dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, kurban mengisyaratkan larangan untuk merampas dan menciderai hak-hak manusia. Salah satunya adalah korupsi.
Tindakan ini jelas-jelas merupakan bentuk perampasan pada hak-hak (milik) manusia, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (26/11) malam. Asrori mengatakan kasus Century menunjukkan secara nyata tentang perampasan dana nasabah dan dana negara melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Hal ini jelas merupakan perampasan pada nilai-nilai kemanusian dan merengut hak-hak sesama. Karena itu, kontekstualisasi makna kurban adalah menyembelih para koruptor, ujarnya.
Menyembelih, imbuhnya, bukan manusiannya tapi melainkan memotong sifat-sifat kebinatangan atau kerakusan yang terdapat dalam diri manusia itu. Sifat-sifat kebinatangan itulah yang harus disembelih, timpalnya.
Alumni Fakultas Dirasat Islamiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu menegaskan kurban bukan hanya dimaknai menyembelih binatang tapi menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia. Karena itu, koruptor harus disembelih sifat-sifat koruptifnya karena merupakan sifat-sifat binatang seperti kerakusan dan ketamakan, tandasnya.
Hari raya ini disebut juga hari raya kurban, karena selesai shalat Id, disyariatkan menyembelih hewan kurban sebagai wujud kesyukuran atas berbagai nikmat yang Allah anugerahkan kepada hambanya.
Sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai kepemimpinan, kesetiaan dan ketaatan yang diperankan secara sinergi tiga hamba Allah yaitu Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail. Ketiga nilai tersebut adalah sangat strategis bila ditauladani sebagai upaya efektif untuk mewujudkan masyarakat yang religius, maju, dan modern.
Salah satu keunggulan Ibrahim, adalah ia dipilih dan dikukuhkan sebagai pemimpin sejagat (Q.S. Al Baqarah/2:124) dan diberi gelar al Musthafa (manusia pilihan) dan al-Hanif (orang yang lurus yang cenderung kepada kebenaran) (Q.S.Shad/38:47.Q.S.al-Baqarah/2:135).
Dipilihnya Ibrahims sebagai pemimpin setelah melewati berkali-kali ujian (fit and proper test) yang disampaikan Allah sebagai Maha Penguji. Paling tidak, poin penting yang menjadi materi pokok ujian Allah kepada Ibrahim adalah terhadap keyakinan (akidah).
Murtadha Muthahari, seorang filsuf Islam mengatakan komitmen keyakinan (akidah) seorang pemimpin akan sangat berpengaruh dalam kepemimpinannya. Ada empat ciri kepemimpinan yang diwarnai oleh keyakinan (akidah)nya.
Pertama, mampu mengembangkan potensi positif yang dimiliki dirinya dan orang disekitarnya serta menekan sifat-sifat negatif distruktif. Kedua, memiliki daya tahan terhadap berbagai guncangan dan perubahan zaman yang bertentangan dengan keyakinannya (akidah).
Ketiga, Visioner, tidak berpikir sesaat (periodik dan materialistik), selanjutnya, memiliki tingkat kesadaran paripurna bahwa seluruh aktivitasnya akan dipertanggungjawabkan, tidak saja kepada manusia tapi juga dihadapan pengadilan Tuhannya (horizontal dan vertikal). [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !