INILAH.COM, Teheran - Pemerintah Iran menyita hadiah Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepada seorang pengacara HAM, Ahirin Ebadi, pada 2003 silam.
"Tak ada yang bisa menyingkirkan saya dari negeri sendiri. Saya menerima banyak pesan gelap yang menyatakan akan memenjarakan saya jika berani kembali. Atau membuat lingkungan saya menjadi tidak aman," ujar Ebadi seperti dilansir Yahoo, Jumat (27/11).
Ebadi memenangkan Nobel atas upayanya untuk menegakkan demokrasi di negaranya, meski terus mendapat pertentangan dari pemerintahnya sendiri. Meski ia telah memegangnya selama enam tahun, pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad masih terus mengusiknya.
Negara membekukan rekening bank Ebadi dan menyita US$410 ribu dari US$1,3 juta yang diterimanya dari Asosiasi Nobel dan menyebut uang itu merupakan pajak yang harus dibayarkan kepada negara.
Hadiah Nobel ini tak semestinya kena pajak. (Pemotongan pajak) ini bahkan tak ada dalam UU negara kami, lanjutnya.
Sementara Asosiasi Nobel yang bermarkas di Norwegia terkejut dengan penyitaan yang merupakan pertama kalinya dalam 108 tahun sejarah penghargaan tersebut. Ebadi adalah perempuan Muslim pertama yang menerima Nobel, ia juga juri perempuan pertama di negaranya. [vin]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !