INILAH.COM, Jakarta Jual beli hewan kurban selama ini hanya dianggap transaksi yang tidak memberi dampak maslahat jangka panjang. Padahal, Idul Adha bisa dijadikan momentum pemberdayaan.
Misalkan saja Lembaga Amil Zakat Swadaya Ummah yang berhasil memadukan ibadah kurban dengan pemberdayaan ekonomi, terutama peternak. Lembaga sosial ini berhasil menyediakan sapi murah dengan kualitas yang sesuai dengan persyaratan kurban, baik dari sisi kesehatan maupun berat hewan ternak.
Intinya, kami berkurban sekaligus pemberdayaan peternak. Padahal berkurban biasanya, hanya jual beli biasa dan tidak berdampak jangka panjang, kata Dwi Purwanto, Direktur Eksekutif Lembaga Amil Zakat Swadaya Ummah dalam perbincangan telepon dengan Ahmad Munjin dari INILAH.COM, Kamis (26/11). Berikut wawancara lengkapnya:
Pada Idul Adha kali ini, berapa dana yang berhasil dihimpun untuk kurban?
Dana yang berhasil digalang mencapai Rp121 juta. Semuanya dalam bentuk uang tunai. Dana ini dikelola langsung dan dikonversi dalam bentuk kambing dan sapi. Sehari menjelang Idul Adha sudah mencapai 18 kambing dan 16 sapi. Di hari H pun, kami masih menerima donatur dari pekurban.
Karena itu, hingga hari H akan bertambah, terutama untuk pekurban kambing. Kambing atau sapi sudah disesuaikan dengan ketentuan kurban. Jumlah sapi dan kambing untuk tahun ini hampir imbang. Sesuai aturan, satu ekor sapi diperuntukkan bagi tujuh pekurban.
Apa yang membedakan berkurban melalui Swadaya Ummah dengan berkurban pada umumnya?
Kami memadukan ibadah kurban dengan pemberdayaan ekonomi, terutama peternak. Swadaya Ummah berhasil menyediakan sapi murah dengan kualitas yang sesuai persyaratan kurban, baik dari sisi kesehatan maupun berat hewan ternak.
Dana kurban dikelola dengan tujuan pemberdayaan peternak. Untuk sapi, kita mengambil dari peternak-peternak kita. Kita sekaligus memberdayakan mereka, satu kurban dua manfaat memberdayakan peternak dan kurban itu sendiri. Karena itu, harga sapi tahun ini tidak naik pada level Rp7 juta per ekor.
Berbeda dengan harga kambing yang naik Rp100 ribu per ekor, karena belum masuk dalam pemberdayaan. Peningkatan dari Rp900 ribu pada Idul Adha tahun lalu menjadi Rp1 juta di tahun ini untuk kualitas nomor satu. Harga kambing naik karena Swadaya Ummah belum memberdayakan peternak kambing. Kita masih mengambil dari peternak besar.
Harga sapi sudah termasuk biaya operasional?
Harga Rp7 juta sapi per ekor atau Rp1 juta untuk masing-masing 7 pekurban, sudah termasuk biaya operasional. Mulai dari pendistribusian, dokumentasi, hingga pelaporan ke pekurban. Karena itu, untuk sapi, yang menentukan harga adalah kita sendiri sehingga tidak terjadi kenaikan harga. Pemberdayaan semacam ini sangat menguntungkan bagi pekurban. Karena dengan harga yang relatif murah, kualitas sudah sesuai standar kurban. Sapi dikelola Swadaya Ummah sendiri bersama-sama dengan peternak.
Berapa peternak yang diberdayakan melalui Swdaya Ummah ini?
Kami mempekerjakan 15 peternak yang masing-masing memelihara 2-4 ekor sapi. Keseluruhan, mencapai 50-an sapi. Dari 50 sapi itu hanya 16 sapi yang laku terjual untuk tujuan kurban tahun ini. Selebihnya, akan terserap oleh pasar pedaging, rumah makan sate, restoran, maupun konsumsi masyarakat sendiri untuk harian.
Bagaimana persentase bagi hasil antara Swadaya Ummah dengan peternak?
Perimbangan 60% untuk peternak dan 40% untuk Swadaya Ummah. Dana yang diterima Swadaya Ummah digulirkan kembali ke peternak. Karena itu, 40% dana dari peternak bukanlah sebagai pendapatan pengelola Swadaya Ummah. Semuanya digulirkan kembali ke peternak lain yang membutuhkan sebagai tambahan investasi.
Swadaya Ummah mengelola administrasi, pendampingan, dan membantu sistem pemasaran. Intinya, kami berkurban sekaligus pemberdayaan peternak. Padahal berkurban biasanya, hanya jual beli biasa dan tidak berdampak jangka panjang. [ast]