INILAH.COM, Jakarta - Dubai World yang mengalami kesulitan pembayaran utang obligasi senilai US$60 miliar memberikan kesadaran kepada investor bahwa pasar masih berisiko.
Hal itu disampaikan Analis Reliance Securities, Andrew Siahaan saat dihubungi INILAH.COM, Jumat (27/11). "Kondisi perekonomian global memang sudah pulih namun masih risk recovery," ujar Andrew.
Ia menambahkan, kasus Dubai World akan berimbas pada bursa saham Indonesia. Kasus Dubai World akan memicu investor untuk mencari investasi yang lebih aman selain di emerging market, seperti mata uang Yen, mata uang dolar AS dan obligasi pemerintah. Namun, dampak kasus Dubai World terhadap perekonomian tidak akan terlalu besar.
"Bursa saham Indonesia kemungkinan akan terkoreksi. Tetapi kasus Dubai World membuat kita melihat resiko pasar masih cukup tinggi," tutur Andrew.
Andrew mengatakan, selama ini indeks saham menandakan fundamental di Asia lebih karena hot money yaitu investor mencari investasi imbal hasil tinggi dari yang memiliki rate rendah ke memiliki rate tinggi.
Hal senada diungkapkan Kepala Riset PT Financorpindo Nusa, Edwin Sebayang. Edwin mengatakan, kasus Dubai World memang memberikan dampak ke bursa saham.
Diprediksikan Dubai World akan memberikan sentimen negatif terhadap bursa saham Indonesia. Tetapi sentimen negatif tersebut tidak akan berlangsung lama. "Bursa saham Eropa sudah turun cukup parah, bursa saham global akan kena imbas termasuk Indonesia karena penundaan utang Dubai World," ujar Edwin.
Ia menambahkan, kondisi perekonomian memang sudah pulih tetapi belum pulih benar sehingga pelaku pasar tetap waspada. "Kita sudah melewati masa terparah, kasus tersebut akibat krisis global yang timbul," kata Edwin.
Seperti diketahui, Dubai World mengumumkan akan menunda pembayaran utang sebesar US$60 miliar hingga Mei 2010. Hal ini membuat bursa saham Asia melemah. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !