INILAH.COM, Jakarta - Wakil Ketua KPK non aktif, Bibit Samad Rianto merayakan Idul Adha di rumahnya, komplek Griya Kencana I, Ciledug, Tanggerang. Jumat (27/11), Bibit menyempatkan diri melakukan wawancara dengan INILAH.COM.
Pagi pukul 06.00 saat INILAH.COM mendatangi rumah Bibit Riyanto. Saat itu, Bibit baru keluar rumah. Katanya, dia mau sholat Idul Adha di masjid At-Taqwa, Komplek Griya Kencana I. Ciledug.
Bibit berdua bersama anaknya. Bibit mengenakan baju koko warna krem dan sarung samarinda coklat. Usai menyimpan sandal jepitnya, Bibit bersama anaknya langsung ambil posisi di barisan depan dekat imam.
Selesai salat id, Bibit menyempatkan diri bersalaman dengan jamaah lain. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Bibit banyak disapa oleh para tetangganya.
Bagaimana perasaaannya Anda setelah apa yang terjadi dua bulan belakangan ini?
Biasa aja. Namun saya senang, sejauh ini proses hukum saya ada kemajuan. Lihat saja kemajuan selanjutnya.
Apa aktivitas selama lebaran Idul Adha ini pak?
Kumpul bersama keluarga dan teman-teman lama.
Perkembangan proses hukumnya bagaimana?
Begini. Kasus saya kan bermula dari Komisi III yang mendengarkan testimoni Antasari yang telah bertemu dengan Anggoro. Kan Antasari yang bertemu Anggoro, saya terbawa-bawa. Ary Muladi sendiri sudah merubah BAP-nya. Dia pasti dijerat KUHP pasal 372 dan 378 untuk penipuan dan penyuapan.
Penyuapannya mungkin gagal karena uang Rp 7 Miliar dari Anggoro tidak sampai ke saya, mentok di Yulianto dan Ade Raharja. Rp 7 Miliar kan kemahalan untuk membayar markus dan mafia hukum. Lha wong, katanya markus atau mafia hukum bisa dibayar Rp 2 miliar. Ha... ha... ha
Setelah permohonan Anda dikabulkan MK, siap memimpin KPK kembali?
Alhamdulillah MK mendukung. Tapi KPK tidak bisa sendirian. Untuk pemnberantasan korupsi, markus, dan mafia hukum harus melibatkan semua elemen bangsa, termasuk media. Saya merasa terbantu sekali oleh publikasi media, yang katanya menerima suap dari Anggoro Rp 250 juta.
Soal Anggodo bagaimana pak?
Seperti yang dikatakan oleh khatib salat ied tadi. Saya menganalogikannya seperti kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan semua berhala kecil sesembahan Raja Namrudz, dan menyisakan sebuah berhala besar. Berhala besar itulah Anggodo! Ha... ha... ha... Pada akhirnya kebenaranlah yang muncul.
Jika Bapak kembali menjadi pimpinan KPK, apakah siap membongkar kasus Bank Century?
Kebijakan apapun tidak terlalu penting, semuanya cuma teori. Yang penting fakta yuridisnya ada. Audit BPK juga sudah diserahkan, tinggal menunggu PPATK. Insya Allah saya siap mengawal kasus Century, lihat saja eskalasinya nanti. Alhamdulillah jika sekarang sudah ada dukungan dari masyarakat sipil yang lebih percaya pada KPK untuk membongkar kasus ini.[ims]