INILAH.COM, Serang - Sedikikitnya ada lima jenis konflik yang akan selalu dialami seorang pemimpin di dunia ini, yaitu ideologis, politik, sosial dan ekonomi, rumah tangga, serta dualisme antara pekerjaan dan cinta.
Hal itu diungkapkan oleh Guru Besar Institut Agama Islam Banten (IAIB) Prof Dr KH Atthalullah Ahmad. "Konflik ideologis terjadi ketika Ibrahim berbeda pendapat dengan ayahnya yang masih menyembah berhala," katanya saat jadi khatib pada shalat Idul Adha di Lapangan Stadion Maulana Yusuf, Serang, Jumat (27/11).
Sementara konflik politik digambarkan saat Ibrahim diperintahkan untuk dibakar oleh penguasa setempat. Ibrahim juga ditempa oleh konflik sosial dan ekonomi manakala terjadi kelaparan yang berkepanjangan di Palestina, tempat ia bermukim.
Berikutnya, konflik rumah tangga melanda Ibrahim, manakala ia memutuskan untuk menikahi Siti Hajar dan Sarah.
Di akhir perjalanan hidupnya, Ibrahim menghadapi konflik yang paling berat. Yakni diminta Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Satu sisi, ia harus menjalankan perintah Tuhan, sisi lain, rasa cinta kepada anak juga tidak mudah untuk diabaikan.
"Sehingga akhirnya Ibrahim tetap memutuskan untuk menyembelih Ismail, sebelum akhirnya Ismail berubah menjadi domba yang gemuk," jelasnya.
Dalam peringatan Idul Adha, tersirat makna pengorbanan seorang pemimpin untuk lebih mengutamakan kepentingan agama dan umum, ketimbang kepentingan pribadi dan golongan. [*/bar]