inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Krisis Dubai Goncang Dunia Perbankan

Oleh:
Sabtu, 28 November 2009 | 10:47 WIB
INILAH.COM, New York - Krisis utang Dubai mengguncang pasar keuangan dunia Jumat (27/11), meningkatkan kekhawatiran bahwa beberapa bank mungkin lebih mengencangkan pinjaman dan menunda pemulihan ekonomi global.

Menurut AP, bank-bank internasional bisa mengalami kerugian besar jika utang obligasi perusahaan investasi Dubai sebesar US$60 miliar mengalami gagal bayar. Saham dan pasar komoditas anjlok di New York, London dan Asia akibat investor memburu untuk memindahkan investasi mereka ke dolar AS untuk safe haven.

Tapi sebelumnya kekhawatiran bahwa krisis dapat memicu krisis keuangan juga terjadi setelah beberapa analis meremehkan risiko bank-bank AS, yang diperkirakan memiliki sedikit hubungan ke Timur Tengah.

"Saya tidak berpikir jaminan kerusakan akan menjadi besar," kata Jeffrey Saut, kepala strategi investasi di Raymond James. "Orang-orang akan menggali selama akhir pekan, tapi saya pikir keseimbangan lebih baik untuk menghadapi kejutan seperti ini."

Namun, krisis di Dubai ini menjadi sangat rentan untuk pemulihan ekonomi global. Tahun lalu bencana kredit terjadi di bank-bank besar dengan kerugian miliaran, memaksa mereka untuk mengurangi pinjaman untuk konsumen dan bisnis.

Akses ke kredit telah membaik dalam beberapa bulan terakhir, tetapi analis mengatakan krisis Dubai bisa membuat bank lebih berhati-hati. Itu bisa mendorong lebih banyak pinjaman, dan melemahkan pemulihan setelah resesi terdalam dalam beberapa dasawarsa.

"Apa yang kita butuhkan untuk momentum ekonomi untuk melanjutkan bank merasa yakin tentang pemberian pinjaman, dan jelas apa yang telah terjadi dalam 48 jam terakhir bukan merupakan langkah dalam arah yang benar," kata David Williams, analis perbankan di Fox-Pitt Kelton, London.

Permasalhan Dubai ini membuat para investor terkejut. Setahun setelah terjadi krisis global, pertumbuhan sebetulnya sudah mulai terlihat.

Perusahaan Investasi Ternama, Dubai World, mengungkapkan pekan ini sedang mencari pendanaan untuk membayar utang obligasinya sebesar US$60 miliar paling lambat 6 bulan ke depan. Lembaga kredit menanggapi dengan memotong peringkat utang perusahaan ini dan mengatakan mereka mungkin akan mempertimbangkan rencana default.

Dalam beberapa tahun terakhir, Dubai telah melakukan ekspansi proyek seperti Pulau Teluk dan gedung pencakar langit tertinggi di dunia, sebuah kota turis Timur Tengah. Dalam prosesnya, proyek ini membutuhkan dukungan dana sebesar US$ 80 miliar. Untuk itu Emirates perlu bailout modal dari tetangganya yang kaya minyak seperti Abu Dhabi, dan Uni Emirat Arab modal.

Di Eropa, pasar saham rebound setelah Wall Street jatuh karena khawatir terhadap kejadian tersebut. Sebelumnya, indeks saham di Hong Kong dan Korea Selatan turun 5% dalam menanggapi kerugian Dubai ini.

Krisis Dubai menyebabkan dolar naik signifikan terhadap euro dan pound tapi melemah terhadap yen. Intervensi dari Bank of Japan dengan membeli atau menjual dolar sangat membantu ekspor Jepang.

Bank-bank Eropa yang paling berisiko jika Dubai World tidak dapat membayar tagihan-tagihan. Menurut perkiraan para analis di Goldman Sachs, HSBC Holdings dan Standard Chartered yang berbasis di London dan memiliki cabang di Timur Tengah bisa memberikan pinjamanbisa menghadapi kerugian Dubai masing-masing sebesar US$611 juta dan US$177 juta.

Korea Selatan memperkirakan bahwa lembaga-lembaga keuangan negara baru saja memberikan pinjaman US$88 juta. Perusahaan konstruksi dari Jepang, Australia dan Korea Selatan juga ada dibalik para pengembang Dubai.

Menurut catatan JPMorgan, di antara bank-bank AS, Citigroup Inc telah memberikan pinjaman US$$1,9 miliar ke Uni Emirat Arab pada 2008. Tetapi tidak jelas berapa banyak yang terkait ke Dubai. Citigroup menolak berkomentar.

Menurut data Real Capital Analytics, di Amerika Serikat, Dubai World memiliki sedikitnya delapan gedung perkantoran dan hotel, termasuk Mandarin Oriental dan W Hotel Union Square di New York dan Fontainebleau di Miami Beach. Proyek ini juga mencakup perjanjian Dubai World's dan operator kasino MGM Mirage's untuk membangun proyek CityCenter di Las Vegas Strip.

Antara Oktober 2005 dan April 2008, Dubai World membeli 10 properti sekitar US$9,7 miliar, Real Capital Analytics menunjukkan. Dua dari properti, baik gedung perkantoran di New York, dijual pada November 2007 untuk penggabungan sebesar US$ 2,4 miliar.

"Tapi krisisi Dubai World's ini mungkin tidak memiliki pengaruh yang besar pada pasar komersial real estat AS. Karena mereka hanya aktif selama beberapa tahun saja," kata Dan Fasulo, managing director Real Capital Analytics."

Tapi efek pada sistem perbankan bisa menyentuh bisnis dan konsumen. Bahkan jika sebagian besar bank dapat mengalami kerugian yang berhubungan dengan Dubai. Ini bisa membawa masalah baru di Emirat sehingga akan mengevaluasi kembali skala pengembalian pinjamannya. "Ini bisa membuat perusahaan mengalami kesulitan pinjaman untuk membantu mempertahankan pemulihan global," kata para analis. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.