INILAH.COM, Jakarta - Kondisi gagal bayar Dubai World mencapai US$60 juta menjadi mimpi buruk bagi perusahaan di Indonesia yang bekerja sama dengan 7 anak usaha Dubai World.
Berdasarkan penelusuran INILAH.COM ada 7 investasi Dubai World di Indonesia.
Pertama, Dubai Ports World menginvestasikan US$175 juta untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan PT Pelindo III, PT Terminal Petikemas Surabaya (PTS). DP World membeli 49% saham pada usaha patungan tersebut dari P&O pada 2006.
DP World adalah anak usaha Dubai World milik Pemerintah Emirat Dubai. Pada 2006, DP World juga membeli saham P&O di seluruh dunia senilai US$7 miliar.
Kedua, Dubai DryDocks World melalui DryDocks World SE membentuk JV PT Batam Maritime Center. Perusahaan berinvestasi hingga US$500 juta untuk bekerja sama dengan Fabtech International Ltd yang juga perusahaan asal Dubai. DDW adalah anak usaha Dubai World. Proyek ini terhambat lebih dari dua tahun sejak nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) ditandatangani pada 10 Agustus 2007.
Selain di dalam negeri, DDW telah membeli dua perusahaan milik Singapura US$1,5 miliar. DDW berambisi menjadikan galangan kapal di Batam sebagai galangan kapal terbesar di Asia dan juga pulau Bintan.
Ketiga, Emaar Properties PJSC menginvestasikan US$600 juta untuk mengembangkan kawasan wisata Lombok. Perseroan bekerja sama dengan Bali Tourism Development Corporation. Pada investasi tersebut, Emaar akan membangun hotel dan resor, serta perumahan berskala internasional seluas 1.250 hektare (ha).
MoU ditandatangani pada 19 Maret 2008 di Dubai. Presiden telah menandatangani peraturan pemerintah (PP) sebagai upaya penyelesaian akhir investasi dengan Emaar.
Keempat, Emirates Telecom (Etisalat) membeli 1,13 miliar lembar setara dengan 16% saham PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) pada Desember 2007. Pembelian saham tersebut menghabiskan investasi hingga US$438 juta.
Kelima, Limitless Ltd menjadi mitra strategis PT Bakrieland Development Tbk (ELTY). Investasi perusahaan mencapai US$ 1,7 miliar untuk membangun proyek Rasuna Epicentrum di Kuningan, Jakarta.
Meski demikian, pembangunan gedung tersebut mengalami perubahan jumlah lantai karena krisis situasi keuangan global beberapa waktu lalu. Limitless adalah perusahaan real estat global yang dimiliki Dubai World.
Keenam, RAK Minerals and Metals Investment memiliki dua proyek di Tanah Air. Proyek pertama menghabiskan investasi hingga US$1,5 miliar untuk membangun Pelabuhan Tanjung Api-api. Perusahaan bekerja sama dengan Pemda Provinsi Sumatera Selatan. Selain itu, RMMI membangun kawasan industri.
Proyek lainnya adalah kerja sama dengan Pemda Provinsi Kalimantan Timur pada pertambangan batu bara dan pembangunan proyek rel kereta api batu bara. RMMI menginvestasikan US$ 600 juta dan bekerja sama dengan PT Kutai Timur Investama pada proyek tersebut. Penandatanganan MoU telah dilakukan pada 5th World Islamic Economic Forum 2009 di Jakarta pada 2 Maret 2009.
Ketujuh, Star Petro Energy (ETA Star/ ETA Group) menginvestasikan US$1,7 miliar untuk membentuk perusahaan patungan dengan Pertamina dan Itochu Corp, Jepang. Perusahaan patungan akan mengembangkan kapasitas produksi pada kilang pengolahan (refinery) minyak bumi di Balikpapan.
Penandatanganan MoU dilakukan saat penyelenggaraan 5th World Islamic Economic Forum 2009 di Jakarta, 2 Maret 2009. [san/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !