INILAH.COM, Paris - Para ahli sangat mengkhawatirkan mutasi virus H1N1 yang tengah terjadi di Eropa. Namun memprediksikannya bukanlah hal yang mudah.
"Mutasi biasa terjadi pada virus influenza. Jika setiap mutasi dilaporkan, maka itu akan seperti melaporkan perubahan cuaca," papar Keiji Fukuda, penasihat khusus Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai wabah influenza, Sabtu (28/11).
Menurut Fukuda, pernyataannya adalah mutasi ini kembali menunjukkan bahwa ada perubahan mendasar yang sedang berlangsung pada virus itu. Apakah terjadi perubahan menuju kondisi yang lebih buruk dalam hal parahnya penyakit yang disebabkan olehnya.
"Jawabannya saat ini ialah kami tidak yakin," kata Fukuda, menyusul tersiarnya laporan dari China, Jepang, Norwegia, Ukraina dan AS.
Saat ini, pihaknya tengah melihat laporan mutasi dan berusaha mengidentifikasi apakah mengarah kepada beberapa jenis perubahan dalam gambaran klinik, serta apakah mengakibatkan penyakit yang lebih atau kurang parah.
"Kami juga sedang berusaha melihat apakah virus ini meningkat di luar sana karena itu akan menunjukkan perubahan epidemiologi," imbuhnya.
China, Kamis (26/11), menyatakan telah menemukan delapan orang yang terserang versi virus babi yang bermutasi sementara Norwegia pekan sebelumnya menyatakan negara itu telah mendeteksi satu kasus.
Fukuda juga mengatakan lembaga kesehatan PBB itu sedang meneliti kasus resistan terhadap Tamiflu di Inggris dan AS. Ia menyatakan semua itu berkaitan dengan orang yang sudah menjalani pengobatan karena penyakit lain atau yang memang memiliki masalah kesehatan.
WHO pun tetap mempertahankan penilaiannya bahwa Tamiflu, yang dihasilkan oleh pembuat obat Swiss, Roche, tetap efektif sebagai obat flu babi. [*/vin]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !