INILAH.COM, Denpasar - Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Buleleng, Bali, rata-rata bertambah sebanyak 13 orang setiap bulannya. Sebagian besar penderita berusia produktif antara 20 hingga 39 tahun.
Menurut Koordinator Kelompok Dukungan ODHA Buleleng, Kadek Carna Wirata yang dihubungi dari Denpasar, Sabtu (28/11), hingga Oktober 2009 tercatat sebanyak 674 orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Buleleng.
"Dari seluruh ODHA yang ada di Buleleng, 30 persennya adalah kaum perempuan. Kami berusaha menekan angka penularan HIV/AIDS ini dengan melakukan pendekatan terhadap masyarakat dalam hal ini laki-laki yang berisiko tinggi tertular," ujarnya.
Kalangan pekerja seksual, katanya, sebagai jembatan dalam penularan juga harus ditata. Hal lain yang dilakukan yaitu dengan pendekatan secara massal lewat diskusi kelompok secara umum dan tidak menitikberatkan pada kaum ODHA saja.
"Pandangan masyarakat saat ini sudah berubah sejak ODHA menggunakan obat antiretroviral (ARV)," kata Wirata.
Ia mengatakan, jumlah pendamping yang terbatas membuat para ODHA lebih proaktif. Saat ini setiap satu orang mendampingi sekitar 10 ODHA. "Wilayah Buleleng luas, tidak mungkin satu pendamping setiap hari mendatangi kliennya," ungkapnya.
Menurutnya, penderita HIV/AIDS di Buleleng disebabkan kasus heteroseksual yaitu sekitar 95 persen, kemudian sisanya pemakai narkoba jarum suntik dan penularan ibu hamil ke bayi. "Saat ini di Buleleng untuk bayi yang tertular dari ibunya sebanyak tujuh kasus, tapi yang masih bertahan hidup sampai sekarang ada dua orang," jelasnya.
Ia menambahkan, ibu hamil yang menularkan virusnya ke bayi karena tidak mengikuti program jaringan pencegahan HIV dari ibu ke anak atau yang biasa disebut dengan "preventing mother-to-child transmission" (PMTCT). "Ini program baru yang tak semua ibu hamil dengan HIV mengetahuinya," imbuhnya. [*/mut]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !