inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Angket Century Bisa Nusuk Siapa Saja

Headline
inilah.com /Dokumen
Oleh:
Minggu, 29 November 2009 | 13:44 WIB
INILAH.COM, Padang - Hak angket kasus Bank Century yang kini bergulir di DPR seperti pisau bermata dua bagi pemerintahan SBY.

"Hak angket itu pisau bermata dua, satu matanya bisa menusuk Pemerintahan SBY, mata satunya lagi bisa menusuk lawan politik SBY ketika semua parpol koalisi lebih memilih mengendapkan kasus Bank Century," kata Pengamat politik dari Pusat Studi Investasi Politik, Ruslan Ismail Mage di Padang, Minggu (29/11).

Akademisi dari Universitas Ekasakti Padang itu mengatakan, hak angket Bank Century akan menjadi pembuktian anggota DPR terpilih, apakah kualitasnya sama dengan periode lama yang selalu mewacanakan hak angket tapi tidak pernah terlaksana.

Menurut jebolan S2 Ilmu Politik UI itu, kalau hak angket berlanjut, tentu orang-orang kepercayaan SBY yaitu Boediono dan Sri Mulyani akan terus menjadi sasaran tembak. Karena itu, Ruslan memperkirakan, Partai Demokrat dan semua elemen pendukung SBY akan berusaha menghadang hak angket ini agar tidak bergulir lebih jauh.

Selain itu, Ruslan mengatakan, sebenarnya pasca pemilu Presiden semua lawan politik SBY sudah kompak dan cenderung tiarap melihat kemenangan fenomenal SBY. Tapi dalam perjalanan 100 hari ke depannya, muncul kasus hukum yang menyedot perhatian publik, kasus KPK vs Polri.

"Kalau kasus KPK vs Polri bisa disikapi SBY sesuai harapan rakyat, maka kasus Bank Century tidak akan muncul ke permukaan. Tapi karena SBY dianggap tidak tegas, maka itu dijadikan pintu masuk lawan politik SBY untuk sekalian membongkar kasus Bank Century," katanya. [*/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
1 Komentar
Awak urang Padang juo @ Minggu, 29 November 2009 | 14:42 WIB
Awalnya saya semangat membaca, eee setelah alinea kedua menjadi hambar. Anda terlalu memberikan point berlebihan thd kekuatan koalisi yudoyono, sekali gus menafikan dukungan "e-parliament" serta kekuatan rakyat. Pada saat ini, saya meyakini dukungan "non parlemen" justru lebih dominan dari pada parlemennya sendiri.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.