INILAH.COM, Jakarta - Krisis Dubai World karena utang obligasi US$60 miliar yang berpotensi gagal bayar, akan membuka potensi lonjakan keluar-masuknya hot money.
Menurut ekonom senior Drajad H Wibowo, pelaku pasar global akan terguncang dengan adanya kasus Dubai World tersebut. "Timing dari krisis Dubai ini tidak mengenakkan, yaitu ketika pasar keuangan global mulai
meyakini bahwa krisis sudah menyentuh titik terendah dan pemulihan global mulai terlihat," ungkapnya kepada INILAH.COM, Minggu petang (29/11).
Drajad menjelaskan, kasus Dubai World tersebut menimbulkan kegusaran para pelaku pasar hingga memunculkan pertanyaan apakah masih ada kasus korporasi besar lainnya selain itu. "Pasar keuangan global akan
tertekan lagi," ujarnya.
Sementara di Indonesia sendiri, Drajad mengungkapkan, kasus tersebut akan membuka potensi melonjaknya aliran hot money, baik ke dalam mupun keluar Indonesia. "Kondisi tersebut membuat Indonesia sebagai bagian dari emerging market berpotensi menerima atau kehilangan lonjakan aliran hot money. Ini karena ketidak pastian semakin meningkat. Sebagian dana akan lari ke instrumen keuangan yang aman di negara maju sperti Eropa. Sebagian lagi lari ke high-yielding markets," paparnya.
Ia pun menegaskan, kondisi ini harus diwaspadai pasalnya volatilitas hot money akan menimbulkan risiko baru. "Meski demikian kita diuntungkan oleh pelemahan nilai tukar dolar AS, sehingga ini mengurangi transmisi volatilitas ke dalam negeri," pungkasnya. [mre/hid]