INILAH.COM, Jakarta PT Matahari Putra Prima merestrukturisasi dan mengalihkan aset internalnya. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan tata kelola dan pembiayaan menjadi lebih transparan.
PT Matahari Putra Prima dengan kode bursa MPPA, resmi menguasai 90,76% dari modal disetor PT Matahari Department Store (MDS), yang sebelumnya bernama PT Pacific Utama (KPPF). Hal ini terealisasi setelah penawaran umum terbatas kedua, dimana MPPA memperoleh saham hasil pelaksanaan rights issue, dengan hak menjual efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 2,64 miliar unit.
"Terhitung sejak 25 November 2009, perseroan telah menjadi pemegang saham Matahari Department Store," kata Direktur Matahari Putra Prima Lina Latif dalam penjelasan yang dipublikasikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, baru-baru ini.
Keputusan pengalihan aset departemen store pada Pasific Utama hingga di atas 90%, telah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rencana restrukturisasi yang disetujui yakni mengalihkan dana Rp 430 miliar dari MPPA, melalui persediaan barang, furniture, hak sewa toko, uang muka, serta kewajiban lain.
Direktur Komunikasi MPPA Danny Kojongian menuturkan, proses pengalihan aset ini akan menjadikan MDS sebagai entitas yang terpisah secara legalitas dari Matahari Food Business (MFB) sebagai bisnis ritel inti perseroan. "MDS dapat memiliki tingkat independensi, transparansi, dan fleksibilitas manajemen dan operasional," katanya.
Aksi ini merupakan kelanjutan pemisahan (split) bisnis internal Matahari, yang sebelumnya memisahkan unit bisnis supermarket dan department store. Ini berarti aset operasional department store seperti inventory, distribusi, merchandise, prepaid list, dan sumber daya akan dialihkan dari Matahari ke MDS. Sementara MPPA akan menjadi induk MDS dengan mengelola bisnis dan korporat.
Sementara entitas lain juga akan dikelola sebagai unit terpisah. Setelah unit department store, MPPA berencana memisahkan operasi bisnis lain seperti toko buku dan Timezone. Tata kelola dan pembiayaan jadi lebih transparan, bisnis department store bisa berkembang sendiri," tambah Danny.
Sektor ritel memang masih bersinar di tengah perekonomian yang tak menentu. Hal ini terlihat dari kinerja keuangan perseroan yang memuaskan. Pada semester pertama 2009, MPPA berhasil mencatatkan kenaikan penjualan bersih sebesar Rp5,979 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp5,184 triliun.
Industri yang menyasar konsumen kelas menengah atas ini juga berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih dua kali lipat dibandingkan periode sama 2008. Profit MPPA tercatat naik 117% menjadi Rp130,36 miliar. Selain itu, per Juni 2009 lalu, posisi kas internal Matahari mencapai Rp1,197 triliun.
Lonjakan laba bersih tersebut disebabkan momen Hari Raya Idul Fitri yang masuk pada kuartal ketiga. Bandingkan dengan 2008, dimana Lebaran masuk di kuartal empat.
Perseroan pun menargetkan penjualan bersih tahun ini meningkat 10-15% menjadi Rp13,2-13,5 triliun, ketimbang 2008 yang mencapai Rp12 triliun. Hal ini menyusul masih adanya momen Hari Raya Natal dan tahun baru.
MPPA adalah perusahaan ritel multiformat. Hingga saat ini, Matahari memiliki 87 Matahari Department Store, 45 hipermarket Hypermart, 26 Foodmart, 50 gerai Boston Health & Beauty Center, 13 toko Times dan 90 tempat hiburan keluarga Timezone. Gerai milik Matahari tersebar di 50 kota, dan menjual lebih dari 100.000 produk, dan memiliki 4,5 juta pelanggan loyal.
Pertumbuhan department store per tahun mencapai 10% dengan pasar utama di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, dengan kontribusi 35% terhadap total pendapatan perseroan. Dari belanja modal (capital expenditure/capex) Rp1 triliun pada 2010, sekitar 30-35% dialokasikan untuk pengembangan department store.
Setahun ini, MPPA membangun 5 unit sehingga total memiliki 90 departemen store. Sedangkan Hypermart akan menambah 6 unit lagi sehingga akhir tahun ini ada sekitar 53 Hypermart. Di 2010, rencananya akan dibangun 9-10 department store dan 10-12 Hypermart.
Sedangkan toko Times Bookstores akan ditambah 10-15 unit di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Surabaya, dan Medan agar omzet dapat naik 20%. Investasi untuk satu toko penjual buku premium itu adalah Rp1-2 miliar. Tahun ini, Times Bookstores ditargetkan dapat membukukan penjualan Rp30 miliar.
Saat ini 13 toko Times tersebar di Jakarta, dua di Bandung, dan satu di Bali. Penambahan gerai Times cukup agresif, karena dalam 1,5 tahun, MPPA sudah mengoperasikan 16 toko.
Di Indonesia, toko buku Times dioperasikan PT Times Prima Indonesia, anak perusahaan MPPA, bekerja sama dengan Times Publishing Limited Singapore. Times juga berekspansi di Malaysia dan Macau. [mdr]