NASIONALISME adalah mantra para pemimpin Cina dewasa ini. Meski mereka selalu mengklaim diri sebagai orang komunis dan partainya masih bernama Partai Komunis Cina (PKC)..
Peristiwa Tiananmen 1989, disusul oleh sanksi Barat yang memutuskan segala pertalian dengan Cina sebagai bentuk protes terhadap penindasan atas para penuntut hak demokrasi justru dipakai oleh PKC untuk menghidupkan kembali semangat nasionalisme.
Sanksi itu digambarkan sebagai bentuk arogansi Barat dan cara untuk terus memperhinakan Cina sebagai negara 'kelas kambing'.
Setelah hubungan dengan Barat normal, nasionalisme digunakan untuk memupuk rasa kesadaran tinggi dan bangga sebagai orang Cina. Nasioalisme juga digunakan sebagai pendorong menjadikan Cina sebagai negara kuat yang mampu bersaing baik dalam bidang ekononi maupun militer dengan kekuatan lain di dunia.
Waktu untuk mengeksploitasi nasionalisme juga sangat tepat. Dengan reformasi ekonomi, masyarakat Cina tengah berubah cepat. Itu juga terjadi ketika hampir seluruh lapisan masyarakat sudah muak dengan sosialisme/ komunisme, dipaksakan oleh Mao Zedong untuk menciptakan manusia egaliter. Nasionalisme muncul kembali.
Nasionalisme di negeri itu sebenarnya telah berusia panjang. Pada awalnya, di negeri itu nasionalisme sama sekali tak dikenal. Sampai penghujung abad ke-19, orang Cina hanya setia kepada keluarga, klan, atau kampung halamannya. Oleh karena itulah, kata Bapak Revolusi Cina Sun Yat-sen mengatakan, rakyat Cina itu bagaikan pasir. Ia bersatu kalau digenggam tangan, dan begitu genggaman dilepas, ia akan terpencar lagi.
Para sejarawan mengatakan, sampai permulaan abad ke-20 di sana hanya ada nasionalisme kebudayaan, khususnya Konghucuisme yang sejak sekitar permulaan Masehi telah diakui sebagai ideologi negara. Karenanya, di Cina pernah ada dua dinasti penguasa asing, yakni Dinasti Yuan, dan Dinasti Qing (1644-1911). Mereka didukung rakyat lantaran menggunakan legitimasi ajaran Kong Hu Cu sebagai dasar untuk berkuasa. Kedua dinasti itu berkuasa tanpa dianggap sebagai penjajahan asing.
Adalah Sun Yat-sen juga yang berani mengatakan bahwa Dinasti Qing itu adalah penjajah. Jadi, rakyat Cina harus meruntuhkan penguasa asing itu dengan revolusi dan membentuk sebuah republik dengan didasarkan oleh nasionalisme. Berkat usaha yang tak kenal lelah, Sun berhasil menggalang semangat rakyat dan dengan Revolusi Xinghai (10 Oktober 1911) berhasil meontokkan Dinasti Qing dan membentuk Republik Cina (Zhonghua Minguo).
Namun, republik dan nasionalisme itu tak sempat berkuasa lama. Setelah kejatuhan Qing, Cina mengalami zaman kekacauan yang berlangsung hampir 40 tahun. Kaum nasionalis, kaum monarki, para warlord dan kemudian kaum komunis saling bertikai untuk menjadi penguasa tunggal di Cina.
Hasilnya, kaum komunis di bawah Mao menang, dan mendirikan Republik Rakyat Cina (RRC) pada 1949. Kaum nasionalis terusir dan melanjutkan kekuasaan mereka di Taiwan. Tapi kekacauan dan kesengsaraan rakyat Cina belum berhenti.
Mao berkuasa bagaikan seorang kaisar. Dan uniknya, sebagai seorang yang mengaku dirinya komunis, dia sangat terobsesi oleh percobaan untuk menciptakan masyarakat dan manusia sosialis yang hanya mengenal egalitarianisme dan tak mementingkan diri. Sejak berdirinya RRC Mao melancarkan berbagai eksperimen berupa bermacam-macam kampanye massa.
Yang selalu menjadi korban dari rentetan kampanye itu tak lain dari orang-orang terpelajar dan mereka yang masuk ke dalam kategori intelektual. Begitu terobsesinya Mao oleh konsep sosialisme menurut tafsirannya sehingga ia melupakan pembangunan ekonomi ketika jumlah penduduk Cina membludak. Puncak dari segala kampanye itu adalah Revolusi Kebudayaan (1966-1976) yang sering disebut sebagai '10 tahun penuh kesengsaraan'.
Hanya setelah Mao tiada pada 1976 dan Deng Xiaoping memperkenalkan reformasi ekonomi, kehidupan rakyat mulai membaik. Namun akibatnya orang mulai acuh terhadap ideologi, khususnya komunisme/sosialisme. Dalam kekosongan inilah nasionalisme muncul kembali. Sukses pembangunan ekonomi dan militer, apalagi setelah RRC sukses sebagai penyelenggara Olimpiade 2008 telah menancapkan kembali nasionalisme di kalangan rakyat.
Dalam suasana seperti inilah PKC mengambil keuntungan. Nasionalisme digunakan sebagai alat legitimasi untuk menjadi penguasa tunggal. Bahkan dalam pidato HUT RRC tahun ini, Hu Jintao sedikit kebablasan dengan mengatakan nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa Cina juga harus disebarluaskan di masyarakat etnik Cina di luar negeri yang notabene bukan lagi warganegara Cina.
Permainan ini ada juga bahayanya. Selama pembangunan ekonomi dan militer, serta kemampuan menghadapi tekanan luar (baca: Barat) masih dapat dipertahankan, rakyat akan mendukung rezim dengan gelora nasionalisme tinggi. Tapi, kalau kemampuan itu melemah atau lenyap, nasionalisme akan menjadi bumerang. Ia akan dijadikan alat rakyat untuk menumbangkan rezim. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !