Senin, 28 Mei 2012 | 20:09 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Gerakan Mahasiswa Kawal Century Gate
Headline
inilah.com /Agung Rajasa
Oleh: Ahluwalia
web - Selasa, 1 Desember 2009 | 15:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Century gate yang mengoyak rasa keadilan rakyat telah mendorong kebangkitan kembali gerakan mahasiswa melawan korupsi, patologi yang sangat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gerakan mahasiswa ditandai dengan maraknya aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) perguruan tinggi, HMI, GMNI, IMM, KAMMI, PMII dan organisasi kemahasiswaan lainnya. "Meski para aktivis mahasiswa mengakui logistik mereka terbatas, namun spirit mereka tetap kuat dan tandas. Ini perang melawan korupsi dan kezaliman. Dalam mengawal dan mengawasi Century Gate ini, yang penting hindari bentrokan dan kekerasan," kata Yudi Latif PhD dari Reform Institute.

Kebangkitan gerakan mahasiswa ini ditandai dengan aksi 'kepung' oleh para aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan berbagai elemen masyarakat, tidak hanya terhadap Gedung MPR/DPR di Jakarta, tetapi juga berlaku di seluruh gedung DPRD se-Indonesia.

Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Yusriyanto mengungkapkan, bersama HMI, IMM dan BEM berbagai kampus, GMNI bersama kekuatan civil society lainnya menggalang massa untuk memberi tekanan kepada para anggota legislatif, khususnya di DPR, agar tidak menjadikan skandal Bank Century itu sebagai 'politik dagang sapi' atau 'sandiwara politik yang diperjualbelikan'.

Jangan sampai hak angket ini hanya tampilan wah yang berujung pada adanya deal-deal tertentu, lalu mandek di tengah jalan setelah pimpinan partai politik masing-masing memperoleh posisi-posisi, fasilitas, dan sejumlah tawaran menggiurkan. "Itu kebusukan yang harus dilawan," katanya.

Karena itu, Ketua Umum PB HMI Arif Mustopha menegaskan, para mahasiswa akan mengawal terus proses pengusutan dan penyelidikan melalui pelaksanaan hak angket itu demi membongkar megaskandal tersebut.

Demikian halnya, GMNI di seluruh Indonesia, menurut Yusriyanto, terus memobilisasi massa aksi guna membangun kekuatan rakyat bagi penegakan keadilan dan kesejahteraan.

Dalam hal ini, pantas dicermati peringatan Direktur State Budget Watch (SBW) yang mantan anggota Komisi XI DPR Ramson Siagian. Ia memprediksi Panitia Angket Century bakal mengalami kelunturan dalam perjalanan menuntaskan kasus ini, karena Menkeu Sri Mulyani menyimpan kartu truf yang bisa ia gunakan saat terdesak.
Sri Mulyani dan staf intinya bisa memanfaatkan kartu truf ini, karena kemungkinan mengetahui betul tentang berperannya tokoh-tokoh Senayan yang masih manggung terkait berbagai proyek APBN. Misalnya, soal anggaran pembangunan di Departemen PU, Dephub, program listrik masuk desa di Departemen ESDM. Selain itu juga pembangunan gedung di Depkeu dan beberapa proyek di departemen lain, serta kegiatan yang berkaitan dengan pembagian dana optimalisasi Rp4,2 triliun untuk beberapa pemda oleh Panja Daerah.

Oleh karena itu, deal-deal politik dan politik dagang sapi di DPR harus dilawan dan dicegah oleh kekuatan gerakan mahasiswa dan masyarakat madani yang menghendaki keadilan dan proses hukum Century Gate sampai tuntas.
Sebagaimana diketahui, Selasa (1/12) ini merupakan saat para pengusul Hak Angket Skandal Bank Century memperjuangkan upayanya dalam Rapat Paripurna DPR. Mahasiswa dan masyarakat madani menekan parlemen dengan aksi pengepungan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di Bumi Pertiwi. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.