INILAH.COM, Jakarta - Data tentang penerima aliran data Bank Century oleh Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) dinilai sebagai langkah politik main-main. Tidak ada yang serius di situ.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua DPD RI, Laode Ida di Gedung DPD, Senayan Jakarta, Rabu (2/11). Kepada wartawan, Laode mengatakan bahwa kasus Century terlalu rumit untuk ditafsirkan dengan data yang dilansir Bendera.
''Kasus Century ini dimainkan oleh kekuatan invisible. Munculnya pembongkaran aliran dana ala aktivis Bandung itu mestinya, dipertanyakan. Kok tiba-tiba muncul sejumlah nama penerima dana. Darimana mereka bisa dapat itu?'' tanya Laode.
''Saya juga senior aktivis NGO di Indonesia. Tapi saya kok tidak pernah mendengar ada catatan-catatan seperti itu. ini menunjukkan ada semacam pembangkangan tiba-tiba. Dan, patut dicurigai,'' katanya lagi.
Karena itu, Laode menilai bahwa langkah hukum yang ditempuh oleh geng Istana, diantaranya Trio Mallarangeng terlalu berlebihan. Sebab, dengan adanya data ini, sebenarnya antara Bendera dengan geng Istana sama-sama memperoleh keuntungan dari aliran dana itu.
''Bayangan saya, kalau data ini dibuka, lalu nama-nama itu dirilis, ini memang mengesankan ada semacam pencemaran nama baik. Tapi, begitu nanti aliran dana Century yang asli dibuka, dan tidak ditemukan nama-nama itu, maka ini akan menjadi upaya pencitraan baru. Dan ini menguntungkan geng Istana,'' kata Laode.
Karena itu, isu yang dilontarkan melalui rilis nama-nama penerima dana Century, terlihat banyak yang dibuat-buat.
''Menurut saya, ini harus ditelaah baik-baik. Jangan ditanggapi serius. Ini hanya main-main,'' kata Laode.[ims]