inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Giliran Rekening Tim Pilpres SBY-Boediono Diperiksa?

Headline
SBY-Boediono - inilah.com /Dokumen
Oleh: Ahluwalia
Jumat, 4 Desember 2009 | 09:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Giliran tim kampanye SBY-Boediono berdebar-debar karena kemungkinan KPK akan memeriksa semua rekening mereka.

Tim kampanye pilpres kubu SBY-Boediono terdiri dari politisi Partai Demokrat, PAN, PKB, PKS, PPP dan belasan partai gurem, ditambah Fox Indonesia, Jaringan Nusantara, Tim Sekoci dan seterusnya. Rekening mereka harusnya diaudit untuk menuntaskan isu benar tidaknya ada aliran dana talangan Bank Century ke mereka, agar jelas duduk perkaranya.
Para analis politik dan hukum melihat, skandal Bank Century sudah sangat merusak kredibilitas pemerintahan SBY-Boediono. Karut-marut masalah ini sudah merobek dan mengoyak kepercayaan publik. "Rakyat sudah tak percaya jika tim kampanye SBY-Boediono bersih dari aliran dana bank bermasalah tersebut. Ini harus menjadi perhatian serius istana," kata dosen Universitas Islam Negeri Jakarta Nanang Tahqiq yang juga lulusan McGill University, Kanada.
Karena itu, katanya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus menindaklanjuti pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wapres Boediono, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang ingin agar skandal Bank Century segera dituntaskan, dengan memeriksa rekening pejabat dan tim kampanye yang terkait dengan pemilu legislatif dan pemilu presiden (pilpres) lalu.
Hanya itulah satu-satunya jalan keluar dari kemelut ekonomi-politik yang meledak menyusul meruaknya skandal Century. Publik dan pasar serta masyarakat internasional, memantau penuntasan skandal Century yang amat memalukan ini.
"Ini harus jadi pertimbangan, ini masalah serius sekali," kata Nanang Tahqiq, ahli filsafat dan sejarah Islam itu.
Pemeriksaan itu sangat vital untuk membuktikan ada atau tidaknya dana talangan Bank Century yang dinikmati para pejabat negara, dan pihak-pihak terkait dengan tim sukses Partai Demokrat ataupun tim kampanye SBY-Boediono.
Sosiolog Imam Prasodjo dari Universitas Indonesia mengatakan berbagai pihak mengakui bahwa kunci penuntasan kasus ini ada di KPK. Karena kasus ini substansinya soal konflik kepentingan yang melatarbelakangi dana talangan Bank Century, dan kemudian dicurigai aliran dananya terkait kepentingan politik.
Dengan dukungan Presiden, Wapres, dan Menkeu, KPK dan PPATK mustinya bisa menelusuri siapa saja yang terkait dengan konflik kepentingan, dan menelusuri aliran dananya untuk menjawab keresahan publik dan ketidakpercayaan rakyat itu.
"Ini merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan kepercayaan rakyat," kata Prof Dr Thamrin Amal Tomagola dari FISIP Universitas Indonesia. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
2 Komentar
Rakyat jelata @ Jumat, 4 Desember 2009 | 10:14 WIB
Wahai para pejabat yang berwenang Kami serahkan negeri ini padamu janganlah kau sia-siakan kepercayaan masyarakat kepadamu cukupilah segala kebutuhanmu dan keluargamu setelah itu tolong berikanlah sedikit prikemanusiaanmu untuk menata tatanan negara kita yang sudah amburadul ini
Alexsander Sitepu @ Jumat, 4 Desember 2009 | 10:06 WIB
Mari kita tingkatkan etika kerja dengan penuh tanggung jawab... Lihatlah sampai dari dekat jangan dari jauh-jauh permasalahan, cara kerja personil pemerintahan ini. Jangan lagi membenarkan yang salah. Jangan lagi menyalahkan yang benar. Hanya karena kepentingan peribadi Kepentingan Kelompok Kepntingan golongan ... Akibatnya banyak masyarkat yang teraniaya merusak bangsa dan negara ini
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.