INILAH.COM, Vientiane - Target timnas Indonesia U-23 mengawali SEA Games 2009 Laos dengan kemenangan tak tercapai. Toni Sucipto tertahan oleh Singapura dengan skor 2-2.
Kurangnya pengalaman berlaga di even bergengsi membuat para punggawa muda Garuda ini mengawali pertandingan di Stadion Utama National Sport Complex yang disaksikan 15.000 penonton itu dengan grogi.
Ketidak tenangan Indonesia berhasil dimanfaatkan Singapura yang mencuri gol saat pertandingan baru berjalan enam menit. Berawal dari sepak pojok, Muhammad Safuwan menyambar bola tinggi dengan tandukan yang tidak mampu dijangkau kiper Franky Irawan.
Gol cepat ini semakin membuyarkan konsentrasi pemain Indonesia. Formasi 4-4-2 yang diinstruksikan Alberto Bica tak mampu dijalankan dengan baik. Singapura bahkan menambah keunggulan di menit ke 23 lewat tendangan bebas Mohammad Saiful bin Esah Nain.
Memainkan tempo cepat sejak menit awal membuat stamina pemain Singapura merosot tajam. Bersamaan dengan itu, Indonesia mulai menemukan ketenangan dan perlahan menguasai jalannya pertandingan. Hal ini tidak lepas konsistensi permainan sang kapten Toni Sucipto dan tandemnya di lini tengah Egi Melgiansyah, serta dua pemain sayap Sultan Samma dan Stevie Bonsapia.
Kelincahan duet Boaz Solossa dan Engel Bert tak mampu diikuti pemain bertahan Singapura. Pergerakan keduanya membuka celah bagi para pemain gelandang untuk memberikan umpan-umpan terukur.
Indonesia berhasil memperkecil ketinggalan pada menit 42. Sultan Samma menusuk jantung pertahanan lewat sayap kiri mengecoh dua pemain bertahan Singapura, dan melepaskan umpan silang yang berhasil dimaksimalkan Stevie Bonsapia.
Di babak kedua, Indonesia terus menekan dan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke 64. Sundulan Rendy menyambut tendangan sudut Tony Sucipto berhasil mengoyak jala Singapura. Kedudukan 2-2 pun bertahan hingga akhir pertandingan.
Pelatih Indonesia U-23, Alberto Bica, mengakui ketidak tenangan pasukan mudanya. Secara umum sebenarnya kami tampil bagus. Tetapi di awal pertandingan, para pemain memang nervous sehingga mereka sulit mengembangkan permainan. Ini tidak boleh terjadi lagi saat menghadapi Laos dan Myanmar nanti, ujar Bica.[boy]