INILAH.COM, Jakarta - Skandal Bank Century di mata publik merupakan kasus yang telah melanggar undang-undang dan menusuk rasa keadilan rakyat.
"Ada pelanggaran terhadap hukum/UU, ada penyimpangan pengelola keuangan,dan korupsi
politik yangmenusuk keadilan rakyat. Danini menggerogoti keselamatan bangsa dan negara," kata Darmawan Sinayangsah, Direktur Freedom Foundation dan peneliti ekonomi-politik lulusan FISIP UI.
Namun kepada INILAH.COM, Darmawan kini melihat, Boediono dan Sri Mulyani bermanuver untuk mengecoh rakyat, dengan cara mendekati para tokoh, cendekiawan dan akademisi. "Itu pencitraan kamuflase dan kosmetik politik," kata Darmawan yang lulus dengan tesis mengenai krisis ekonomi dan skandal BLBI era Orde Baru.
Anda menyatakan ada manuver dari Boediono dan Sri Mulyani belakangan ini setelah skandal Century kian terkuak?
Ya. Begitu. Saya melihat Wapres Boediono dan Menkeu/Ketua KSSK Sri Mulyani sadar bahwa posisi mereka terancam akibat skandal Bank Century. Kedua sosok itu kini menggalang manuver dan dukungan moral dari para tokoh seperti Goenawan Mohamad (budayawan) dan Jakob Oetama (Pemimpin Kompas), Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Prof Erman Rajaguguk (FHUI), Prof Hikmahanto Juwana (FHUI), Bambang Harimurti (Pemred Tempo), Teten Masduki (ICW) dan T Mulya Lubis (TII) dan seterusnya. Sementara perlawanan mahasiswa dan civil society makin deras. Kini, publik khawatir nama-nama tokoh itu tercoreng semua atau minimal tercemar oleh kasus Boediono dan Sri Mulyani yang telah melakukan penalangan Bank Century yang dirampok oleh pemiliknya sendiri.
Maksud Anda?
Kita ingat, Jusuf Kalla, mantan Wapres, menegaskan bahwa kasus Century adalah perampokan. Jadi, kesalahan keduanya adalah melakukan talangan terhadap aksi kriminal berupa perampokan oleh pemilik Century (Robert Tantular), terjadi penyalahgunaan wewenang. Bagaimana mungkin mereka bisa cuci tangan, sementara pengucuran dana itu konon juga dilakukan pada hari libur? Dan itu memicu kecurigaan publik. Kasus ini mengingatkan kita pada kasus Bank Bali era Habibie dan aliran dana BI ke DPR dimana para gubernur BI waktu itu diproses hukum, dan angka skandal Century jauh lebih besar dari kasus Bank Bali dan aliran dana BI ke DPR
Ada yang menyebut Boediono dan Sri Mulyani sebagai korban. Menurut Anda?
Dalam sebuah pertemuan para wartawan senior, konon ada yang menyebut Sri Mulyani dan Boediono sebagai 'kurban' seperti Ismail dalam Hari Raya Kurban umat Islam. Wah, kalau benar ada pernyataan macam itu, jelas itu bohong, tak masuk akal, dan terlalu berlebihan.
Boediono dan Sri Mulyani itu penganut Neoliberalisme (Neokolonialisme), bukan orang suci. Pak Amien Rais dan Pak Din Syamsuddin dari PP Muhammadiyah menegaskan, Boediono dan Sri Mulyani itu harus mundur, bukan ngotot bertahan demi kekuasaan. Umat Islam tak percaya lagi kepada keduanya. Ingat, kalangan nasionalis seperti GMNI, PMKRI, GMKI, dan golongan lainnya sudah tidak percaya keduanya. Demikian juga kalangan Muhamadiyah, NU, PKS, HMI, PII, IMM, PMII, KAMMI dan BEM kampus, sudah tak percaya lagi.
Bagaimana soal isu mafia Berkeley bagi keduanya?
Boediono dan Sri Mulyani itu dianggap lapis lanjut Mafia Berkeley, merupakan jaringan IMF/Bank Dunia dan didukung kekuatan kapitalis internasional untuk melanggengkan neokolonialisme di Indonesia . IMF/Bank Dunia akan membela mereka karena mereka adalah fasilitator bagi neoliberalisme dan pasar bebas di Indonesia.
Mereka menyediakan fasilitas bagi kejahatan keuangan, sebagaimana yang terjadi dengan skandal BLBI Rp650 triliun,Indover, Bahana dan kini Century.
Semua kejahatan keuangan triliunan itu hanya bisa difasilitasi para ekonom neoliberal yang selalu tunduk dan melayani kepentingan global. Boediono dan Sri Mulyani hanyalah puncak gunung es dari kepentingan Internasional dan IMF di Indonesia, mereka melayani kepentingan asing, dan mereka kini diduga kuat terlibat kejahatan keuangan yang terjadi di negeri ini sejak era Orde Baru. Ingat skandal BLBI, Indover, Bahana dan Century. Semua itu kejahatan finansial yang mengerikan. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !