Minggu, 27 Mei 2012 | 11:14 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sektor Telekomunikasi Jadi Andalan Pertumbuhan
Headline
istimewa
Oleh: Vina Ramitha & Asteria
web - Senin, 7 Desember 2009 | 05:51 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Sektor telekomunikasi masih menjadi andalan, di tengah perlambatan ekonomi akibat krisis global. Hal ini didukung meredanya perang tarif. Saham TLKM menjadi pilihan utama.
Hal ini diungkapkan analis eTrading Securities Suryadi Candra Kasih. Menurutnya, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) mendapat rekomendasi positif untuk sektor telekomunikasi.
Selain masih menjadi pemimpin utama pasar, sebelum dan sesudah perang tarif, perolehan margin TLKM masih yang terbesar dibanding tiga perusahaan lain, ujarnya dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini.
TLKM menghasilkan price earning ratio (PER) sebesar 13 kali pada 2010, dengan return on equity (ROE) 31% dan low gearing 35%. Bandingkan dengan PER market 15 kali pada 2010 dan ROE 23%. Berdasarkan historis belanja konsumen serta kapitalisasi pasar, kami yakin, TLKM masih outperform, tegasnya.
Menurutnya, tahun ini operator lebih konservatif, dengan menurunkan capex. Mereka memilih memperbaiki jaringan, ketimbang memperluasnya. Hal ini akan menguntungkan Telkomsel yang sudah lebih dulu memperluas area jangkauan serta memiliki kapabilitas capex lebih tinggi, paparnya.
Sementara tingginya penggunaan, memang menyebabkan trafik jaringan melonjak. Kapasitas utilisasi Telkomsel pun terdongkrak menjadi 97% pada kuartal ketiga 2008, dari 93% pada periode sama tahun lalu.
Suryadi menuturkan, kemandirian sektor telekomunikasi yang menambang dari negeri sendiri, menjadikan sektor ini defensif terhadap krisis. Dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi 4,5% di 2009, kami berharap sektor ini akan memposting pertumbuhan 8%, katanya. Suryadi optimistis, pertumbuhan jangka panjang dan penetrasi pasar sektor telekomunikasi lokal mampu mengejar pasar kawasan.
Menurutnya, tingkat penetrasi selular meningkat 30% karena konsumen menggunakan lebih dari satu kartu SIM. Sedangkan tingkat nomor hangus (churn rate) mencapai 11,2%, dari rata-rata MOU (Minute of Usage) per pelanggan yang mencapai 150 menit. Padahal di India, MOU mencapai 300 menit, bahkan di China mencapai 500 menit.
Pertumbuhan revenue yang kuat pada industri telekomunikasi mulai terhambat sejak 2008, akibat perang tarif. Kendati demikian, pertumbuhan industri telekomunikasi ini masih lebih tinggi, ketimbang ekonomi nasional. Ini mengindikasikan kematangan industri telekomunikasi, yang membutuhkan konsolidasi para pelakunya bertahun-tahun ke depan, selagi mereka mencari pertumbuhan eksternal, paparnya.
Di sektor telekomunikasi domestik, 11 operator berkompetisi dengan basis harga, network coverage, range dan kualitas layanan, serta branding. Indonesia merupakan salah satu negara dengan operator telekomunikasi terbanyak di dunia. Bandingkan dengan Malaysia yang hanya 5, Singapura 3, dan China 2 operator.
Namun, pasar wireless Tanah Air hanya dikendalikan tiga operator besar. Telkom dan anak perusahaannya yaitu Telkomsel, serta Indosat dan XL. Ketiganya memegang pangsa pasar seluler hingga 83% dan 89% total pasar wireless pada 2008.
Setahun terakhir, ketiga operator seluler besar bersaing ketat. Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo memangkas tarif mereka secara agresif demi pangsa pasar dan MOU. Alhasil, rata-rata RPM (Revenue Per Minute) turun 67% ke Rp315 pada akhir 2008, mencapai angka terendahnya pada kuartal tiga dan empat 2008.
Sedangkan penggunaan bulanan naik 171% dari 58 menit menjadi 157 menit. Persaingan yang intens membuat kejatuhan tarif/ARPU (Average Revenue Per User) turun 22% ke Rp47 ribu pada kuartal tiga 2008. Margin profitabilitas anjlok dan pertumbuhan terbatas pada satu digit, dibandingkan CAGR 2005 yang mencapai lebih dari 20%.
Namun, hal ini merupakan kabar baik bagi konsumen, mengingat tarif yang lebih murah. Pengguna telekomunikasi naik pesat dan menutup ARPU. Sedangkan MOU juga naik signifikan, ujarnya.
Kompetisi harga tahun ini agak berkurang, akibat biaya yang mahal. Seperti PT XL Axiata (EXCL) yang menghadapi kesulitan aliran dana akibat tidak stabilnya nilai tukar mata uang dan meningkatnya biaya akibat krisis global.
Sementara beberapa operator seluler kecil mulai menggunakan sumber daya masing-masing untuk meningkatkan kapasitas pada akhir 2008. Misalkan saja neraca perdagangan XL yang diperluas hingga 407% net gearing setelah serangkaian capex agresif. Sedangkan Telkomsel yang masih sehat secara finansial, memilih tak lagi memangkas tarif untuk menjaga level ARPU.
Di tengah kondisi pasar yang tidak mendukung akibat ketatnya likuiditas perbankan, operator tak berminat mengadakan perang tarif dalam jangka pendek. Pasalnya, hal tersebut membutuhkan kapasitas ekspansi besar. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.