INILAH.COM, Jakarta - Dugaan akan terjadi aksi massa pada tanggal 9 Desember diperkirakan tidak mempengaruhi perekonomian Indonesia meski suhu politik memanas.
Demikian dikatakan pengamat ekonomi dari UGM, Revisond Baswier, kepada INILAH.COM. "Ekonomi secara makro tidak akan terpengaruh," ucapnya.
Hal tersebut, kata dia, disebabkan pasar telah terbiasa dengan aksi masa yang kerap terjadi di Indonesia. Ia mencontohkan, sewaktu marak aksi massa karena kasus kriminalisasi Bibit-Chandra, roda perekonomian tetap stabil. "Demo seperti itu biasa, waktu kasus Bibit-Chandra ekonomi juga jalan. Tidak ada pengaruhnya secara langsung," jelasnya.
Para investor asing, tambahnya juga tidak akan merespon negatif aksi tersebut, sebaliknya mereka akan mendukung aksi tanggal 9 Desember. Pasalnya selama ini para investorlah yang kerap dirugikan karena aksi korupsi yang sering terjadi." Mereka akan menyambut baik aksi itu, Bahkan mungkin saja para investor lah yang juga mendanai," cetusnya.
Selain itu, Revrisond juga mengingatkan para pelaku demonstrasi agar berhati-hati dalam melakukan aksinya. Karena besar kemungkinan aksi yang semula murni untuk memperingati hari korupsi Internasional tersebut akan disusupi para koruptor. Tujuannya adalah untuk membuat kekacauan sehingga tuntutan untuk menindak para pelaku korupsi tenggelam.
"Dengan tujuan untuk mengacaukan dan mencemarkan gerakan anti korupsi. harapannya upaya hukum akan melemah dan koruptor bisa lolos," tandasnya. [hid]