INILAH.COM, Jakarta - Menghangatnya situasi politik dalam negeri membuat cemas pasar. Mereka khawatir, gerakan yang dikabarkan akan menjatuhkan pemerintah SBY-Boediono itu benar-benar ada.
Kecemasan ini memang tidak mengada-ada. Sebab, selain presiden sendiri telah mengungkapkan adanya rencana gerakan sosial (baca demonstrasi) pada 9 Desember, akhir pekan lalu muncul berita tentang adanya pertemuan di Hotel Dharmawangsa yang konon dihadiri oleh sejumlah tokoh politik papan atas.
Kalau berita itu benar, sungguh mengerikan. Dan kami percaya (gerakan itu ada), soalnya presiden sendiri yang mengungkapkan, kata seorang investor di Jakarta, Senin (7/12).
Kepercayaan akan adanya demonstrasi besar semakin menebal tatkala Hendropriyono memberikan analisisnya di salah satu stasiun televisi swasta, akhir pekan lalu. Menurut mantan Kepala BIN ini, apa yang dikemukakan presiden memiliki landasan cukup kuat. Sebab, informasi yang diperoleh datang dari badan intelijen. Itu artinya info kelas A, kata Hendro.
Mungkin itu sebabnya, sejumlah analis yang dihubungi INILAH.COM menganjurkan investor untuk sementara menahan langkah. Jangan membeli dulu. Tunggu, apa yang terjadi tanggal 9 (Desember), kata seorang kepala riset di sebah perusahaan sekuritas asing.
Sebuah kondisi politik yang sungguh disayangkan, memang. Terutama karena terjadi di saat aksi pemulihan ekonomi di berbagai belahan bumi sedang berlangsung. Bahkan, seperti dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebentar lagi akan terjadi banjir dolar di pasar internasional.
Hal itu karena pemerintah AS akan meneruskan program stimulusnya agar pemulihan bisa berlangsung lebih cepat. Diperkirakan, ada dana yang akan digelontorkan ke pasar sebesar US$22.800 miliar.
Nah, seraya menunggu situasi politik menjadi jelas, investor disarankan segera melapas sahamnya yang sudah menghasilkan gain. Jangan serakah. Mumpung masih ada kesempatan merelisasikan keuntungan, kata sang kepala riset.
Kelak, jika ancaman yang dikhawatirkan tidak terbukti, dan bursa telah mengalami koreksi, pemodal dipersilakan melakkan koleksi. Sebab, dengan kondisi politik yang stabil, dana asing yang besar akan terus mengalir ke Bursa Efek Indonesia.
Adapun saham yang layak dipilih karena memiliki potensi penguatan yang besar adalah efek-efek dari sektor pertambangan, infrastruktur dan perkebunan. Pertimbangannya, seperti sudah didengung-dengungkan para ekonom dunia, pemulihan perekonomian akan diikuti meningkatnya harga minyak beserta sejumlah komoditas lainnya.
Sahamnya? Banyak. Dari pertambangan, ada PT Adaro Energy (ADRO) dan PT Bumi Resources (BUMI) masih memiliki kekuatan untuk naik cukup besar. Sedangkan dari perkebunan, para anlis cenderung memilih PT Gozco Plantations (GZCO), PT Astra Agro Lestari (AALI) dan PT London Sumatera (LSIP). Kalau dari sektor infrastruktur, menurut saya, WIKA (PT Wijaya Karya) dan ADHI (PT Adhi Karya) pantas digenggam untuk jangka menengah, imbuh sang analis. [mdr]