INILAH.COM, Jakarta Tanggal 20-21 November 2008, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diketuai oleh Menteri Keuangan mengadakan rapat pertama. Rapat berlangsung mulai pukul 00.11 s/d 05.00 WIB. Inilah bagian ke-5 transkripnya:
Lanjutan Penjelasan Sdr Halim dari BI:
Selanjutnya perkenankan kami menyampaikan alasan-alasan serta pendekatan yang kami gunakan untuk menilai kegagalan Bank Century ini ditengarai berdampak sistemik. Kami menggunakan pendekatan yang dikembangkan oleh Financial Supervisory Authority dari Bank of England yang telah di-endorse oleh LPS dan European Center Bank.
Secara umum analisis dampat sistemik Bank Century ini kami menggunakan 5 aspek dimana aspek pertama dikaitkan dengan dampak penutupan Bank Century terhadap institusi keuangan. Kedua, dampak penutupan Bank Century terhadap kinerja pasar keuangan. Ketiga dampak terhadap sistem pembayaran. Keempat dampak terhadap psikologi pasar, serta kelima dampat terhadap sektor riil.
Secara umum kami melihat dampak yang terbesar yang akan muncul dari penutupan Bank Century dari ketidakpastian akibat masih rentannya psikologi pasar atau masyarakat, yang selanjutnya dapat memicu ketidakpastian serta gangguan yang cukup serius di pasar keuangan serta sistem pembayaran.
Berdasarkan kondisi yang dewasa ini terjadi, kami mencoba melakukan assestment bagaimana kejadian kalau seandainya Bank Century ini ditutup dikaitkan dengan kondisi keuangan serta sektor riil.
Seperti kita ketahui, dengan kondisi keuangan global yang terus memburuk dimana kondisi sistem keuangan yang ditandai dengan melekatnya IHSG dan cenderung menurunnya harga SUN ditambah dengan terdapat potensi Capital Flight ke luar negeri, diperkirakan kondisi ini akan terus terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Sementara itu kita juga melihat kondisi neraca pembayaran terus tertekan, cadangan devisa menurun diikuti dengan meningkatnya risiko negara Indonesia dan melemahnya nilai tukar rupiahl. Sementara itu dari sektor riil permintaan domestik walaupun relatif masih kuat tetap telah terdapat tanda-tanda mulai melemah dalam kuartal III 2008, yang lalu.
Sementara itu kami juga melihat peningkatan pembayaran utang luar negeri dalam kuartal IV 2008, khususnya dengan melihat ketersediaan US dolar dan kestabilan nilai tukar.
Hal ini dapat memperlemah fundamental ekonomi Indonesia, sehingga apabila terdapat berita-berita negatif yang dapat memperburuk kepercayaan masyarakat, kegiatan ekonomi yang sedang dalam situasi yang melemah, berpotensi untuk lebih memburuk.
Berbagai informasi dari sektor swasta menunjukkan adanya peningkatan PHK yang diimbangi dengan upaya-upaya memperbaiki peningkatan biaya produksi. Hal ini mengakibatkan sektor swasta kondisinya juga memburuk. BI bersama dengan pemerintah telah melakukan berbagai respon untuk menenangkan pasar.
Antara lain dengan melakukan pelonggaran lukuiditas, kenaikan batas atas penjaminan simpanan menjadi 2 miliar, pemberian penjaminan ketersediaan valas bagi perusahaan domestik dan sebagainya. Namun langkah-langkah ini tampak masih membutuhkan waktu untuk menilai efektifitasnya.
Sementara itu dari sisi kebijakan, pemerintah telah mengeluarkan 3 Perppu tentang JPSK. Amandemen UU LPS, Amandeman UU BI untuk menghadapi gejolak dan potensi krisis yang mungkin timbul di sektor keuangan. Secara umum kondisi ini perlu kita lihat bagaimana nanti dampak dari penutupan Bank Century ini apabila kita melakukan penutupan Bank Century.
Selanjutnya kami juga melihat peranan Bank Century ini dilihat dari fungsinya dalam melayani masyarakat seperti telah disampaikan oleh Bapak Gubernur BI, walaupun dari sisi fungsinya adalah pemberian kredit serta keterkaitannya dengan lembaga keuangan lainnya tampak tidak terlalu signifikan, tapi dari sisi jumlah nasabah dan jumlah kantor bank ini memilih jumlah nasabah yang cukup besar. Yaitu 65.000 nasabah dengan jaringan yang cukup luas di seluruh Indonesia.
Oleh karena itu, dalam kondisi pasar yang kurang normal ini, penutupan bank diperkirakan akan berdampak sistemik bagi bank-bank lainnya.
Patut dipertimbangkan pula, bahwa dengan kondisi makro ekonomi yang sedang mengalami tekanan serta adanya gangguan pada sistem perbankan dan keuangan, dapat semakin memperburuk situasi, yang dapat menimbulkan instabilitas cukup signifikan.
Dari sisi analisis terhadap dampak penutupan Bank Century terhadap pasar keuangan, seperti diketahui pasar keuangan dewasa ini relatif labil dalam menyerap berita-berita negatif. Sementara itu pasar modal seperti yang sudah disampaikan tadi, terus mengalami penurunan.
Credit Default Swap Spread Indonesia terus mengalami peningkatan sebagai cerminan peningkatan country risk.
Dari sisi pasar likuiditas kami melihat terjadi gangguan yang meningkatkan liquidity premium sebagai akibat pelebaran Spread With Ask dalam perdagangan di pasar saham.[bersambung/ims]