Minggu, 27 Mei 2012 | 11:15 WIB
Follow Us: Facebook twitter
HIPMI: Inflasi Penyebab Bunga Kredit Tinggi
Headline
Erwin Aksa - inilah.com/Dokumen
Oleh:
web - Senin, 7 Desember 2009 | 18:04 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa mengatakan tren inflasi yang tinggi yang menyebabkan suku bunga kredit perbankan mahal.

"Inflasi yang tinggi yang membuat suku bunga kredit juga tinggi," kata Erwin, di Jakarta, Senin (7/12).

Menurut dia, pemerintah harus berupaya untuk mengatasi tren inflasi yang tinggi ini, sehingga suku bunga kredit bisa berada di tren yang rendah. Salah satu acuan penetapan suku bunga bank adalah tingkat inflasi.

Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan bahwa selisih inflasi dengan suku bunga acuan (BI rate) minimal 1,5 persen. Untuk itu tren inflasi tinggi maka tren suku bunga bank, terutama kredit akan berada di tren yang tinggi pula.

Pemimpin grup usaha Bosowa ini juga mengatakan, penyebab inflasi tinggi ini karena pengaruh pola monopoli dan oligopoli di dalam perekonomian Indonesia. "Beberapa produk hanya dikuasai oleh beberapa kelompok saja, sehingga kecenderungan harga yang terus naik yang merupakan pendorong inflasi," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah harus merubah model perekonomian di Indonesia tidak hanya dikuasai orang tertentu dan menciptakan kelompok bisnis baru sehingga tercipta persaingan yang terbuka.

"Contohnya industri telekomunikasi yang saat ini berbicara biaya murah karena adanya persaingan, namun laba usahanya tetap naik. Berbeda dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara) yang melakukan monopoli justru rugi. Jadi perlu diciptakan persaingan agar perusahaan itu sehat," kata Erwin.

Ketua umum HIPMI ini juga melihat praktek monopoli dan oligopoli juga terjadi pada perusahaan swasta penghasil minyak goreng sehingga harganya yang cenderung naik.

Menanggapi kasus ini Erwn mengatakan bahwa pemerintah harus melibatkan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengatasi terjadinya pembentukan harga minyak goreng yang ditentukan oleh hanya beberapa produsen ini.

"PTPN (PT Perkebunan Nasional) yang menguasai CPO (crude palm oil/minyak sawit mentah) tidak hanya menjual saja tetapi juga membuat pabrik minyak goreng sehingga ada persaingan usaha," katanya.

Erwin berharap dengan munculnya kelompok bisnis baru beberapa pengusaha tidak bisa semena-mena menentukan harga yang mendorong inflasi tinggi. [*/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.