INILAH.COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai, instrumen investasi dalam negeri masih minim untuk menarik minat investor.
Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono mengatakan, aliran arus modal yang masuk ke Indonesia saat ini lebih banyak dalam bentuk jangka pendek. "Ini pengaruh ke nilai tukar," ujarnya dalam Forum Dialog Bersama Otoritas dan Pelaku Ekonomi "Meneropong Ekonomi Indonesia ke Depan Peluang dan Tantangan" di Menara Syafrudin Kompleks BI Jakarta, Rabu (9/12).
Menurutnya, saat ini dana asing masuk ke dalam instrumen Sertifikat Bank Indonesi (SBI), sementara banyak dari investor yang berminat tinggi menanamkan dananya ke Indonesia. "Tapi paper (instrumen) kita masih sangat terbatas. SBI dilihat sangat seksi, bunganya tinggi," ujarnya.
Hartadi pun menyatakan, apabila ppemerintah memiliki instrumen lain yang dapat mengimbangi SBI maka dana asing tidak akan bertumpuk pada instrumen itu saja. "Tapi kalau kita bisa banyak ciptakan paper yang sama seksinya dengan SBI sehingga tanpa dilarang pun akan berpindah dari SBI," ujarnya.
Keberadaan instrumen lain juga akan menunjang pencapaian pertumbuhan ekonomi 7% dalam 5 tahun ke depan. "Maka kalau kita mau tumbuh 7% diperlukan dana masuk dari luar. Jadi kita tidak bisa membiarkan perekonomian kita terbatas, sehingga tidak mungkin buat kita tidak mengambil kesempatan ambil dana dari luar negri. Ini kunci BI dn pemerintah untuk tetap menggalang dana sehingga investasi menengah panjang bisa berjalan baik," pungkasya. [mre/san/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !