INILAH.COM, Jakarta - PT Jamsostek (Persero) akan melalui Jamsostek Incorporated, mengincar PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, PT Bank Agroniaga Tbk dan PT Bank Syariah Bukopin.
Hal itu dikatakan Dirut Jamsostek Hotbonar Sinaga di Jakarta kemarin seperti dikutip dari Bisnis Indonesia. Akuisisi ketiga bank tersebut bisa dilakukan dengan menambah saham atau investor strategis. Namun, langkah itu bergantung pada keputusan pemegang saham mayoritas. "Jadi ada kemungkinan salah satu dari ketiga bank itu atau mungkin dari luar bank itu," ujarnya.
Jamsostek Incorporated merupakan perusahaan investasi patungan dengan ICD, untuk mengakuisisi bank baru yang dieksekusi tahun depan. Perusahaan itu tertarik mengakuisisi salah satu dari tiga bank nasional. Jamsostek memiliki penyertaan modal terhadap ketiga bank tersebut, meskipun dalam skala kecil.
Menurut Hotbonar, perseroan berminat untuk memiliki bank syariah. Namun, sambungnya, jika yang dibeli bank konvesional, akan dikonversi menjadi bank syariah. Jamsostek saat ini memiliki investasi di Bank Muamalat di bawah 1%, Bank Agro sekitar 3%, dan Bank Syariah Bukopin sekitar 9%. "Itu salah satu yang akan dilakukan Jamsostek Investment Corporation ini. Tetapi yang jelas, banknya itu adalah bank syariah. Saya adalah anggota Masyarakat Ekonomi Syariah. Jadi komitmenya membangun investasi berbasis syariah," tuturnya.
Dia menjelaskan pembelian bank itu akan dilakukan setelah proses pembentukan anak usaha investasi. Jamsostek Incorporated ditargetkan sudah terbentuk sebelum pertengahan tahun depan. Kemudian proses uji tuntas pembelian bank dilakukan. "Saat ini pembentukan anak perusahaan investasi sudah dalam proses penunjukan konsultan, feasibility study. Jadi itu partnership dengan ICD," paparnya.
Dalam pembentukan perusahaan investasi tersebut Jamsostek menjadi pemegang saham mayoritas 51%, sedangkan sisanya oleh Islamic Corporation for The Development of The Private Sector (ICD) anak usaha Islamic Development Bank (ADB). Status hukum perusahaan investasi tersebut diharapkan selesai akhir tahun ini, sehingga tahun depan bisa beroperasi. Modal disetor dalam anak usaha sebesar Rp1 triliun. [hid]