Senin, 28 Mei 2012 | 20:26 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mengapa Idrus Marham Enggan Sebut Nama Boediono?
Headline
Idrus Marham - inilah.com /Wirasatria
Oleh: R Ferdian Andi R
web - Rabu, 16 Desember 2009 | 07:27 WIB
INILAH.COM, Jakarta Saat mengumumkan hasil Rapat Pansus Hak Angket Kasus Century, Selasa (15/12), Ketua Pansus Idrus Marham enggan menyebut nama Boediono sebagai pihak yang akan dipanggil pansus. Mengapa?

Jumpa pers pimpinan Pansus Hak Angket Bank Century di gedung DPR awalnya lancar. Secara bergantian Idrus Marham sebagai Ketua Pansus mengawali pernyataan di depan puluhan wartawan cetak, elektronik, dan online. Lalu dilanjutkan Wakil Ketua Pansus Gayus Lumbuun terkait nama-nama tim ahli yang rencananya akan diminta oleh Pansus Angket Century. Secara bergiliran dilanjutkan oleh Wakil Ketua Pansus Angket Century lainnya Yahya Sacawiria dari unsur Fraksi Partai Demokrat terkait anggaran Pansus.
Namun ketika kesempatan memberi pernyataan kembali datang ke Idrus Marham sebagai penajaman keterangan sebelumnya terkait siapa yang dipanggil pada 21-22 Desember oleh Pansus Angket Century, ada insiden kecil. Saat Idrus menyebut nama-nama yang akan dipanggil pada 21 Desember terkait merger Bank Century, belum ada masalah. Dia menyebutkan nama seperti Burhanudin Abdullah, Aulia Pohan, Miranda Ghultom bakal dipanggil. Namun saat menyebut pada 22 Desember terkait Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP), Idrus memberi pernyataan abstrak. Sedangkan pada 22 Desember terkait dengan saat terjadinya FPJP. Siapapun yang terkait, akan kita panggil, ujarnya.
Ketika didesak pers siapa yang terkait? Idrus masih bungkam. Apakah Boediono sebagai mantan Gubernur BI yang dimaksud, kembali Idrus tak menegaskan. "Pak tolong disebut dong, agar kami enak menulisnya," pinta seorang wartawan seakan memprotes sikap Idrus yang masih enggan menyebut siapa yang dimaksud sebagai 'pihak yang terkait FPJP'. Mendapat protes itu, Idrus tetap tak bergeming. Suasana jumpa pers kian gaduh karena Idrus Marham yang didampingi tiga Wakil Ketua Pansus masih belum jelas terkait pernyataan pers.
Dari belakang tempat duduk pimpinan Pansus Hak Angket Century, sejumlah anggota pansus yang duduk di antaranya Maruarar Sirait, Romahurmuzy, Akbar Faizal, Candra Tirta Wijaya, dan Tjatur Sapto Edi. Melihat kegaduhan yang semakin meningkat, salah satu anggota pansus yang juga tergabung dalam Tim Sembilan Maruarar Sirait meminta izin kepada pimpinan Pansus Hak Angket Bank Century untuk menjelaskan ke pers. Setelah mendapat izin, Maruarar langsung menjelaskan ke pers. "Pada 22 Desember 2009 mendatang kami memanggil terkait pemberian FPJP. Tentu itu merupakan kebijakan dari BI, bicara BI terkait dengan Peraturan BI, berarti pula yang mengeluarkan Gubernur BI saat itu yaitu Boediono, jelas Ara secara gamblang.
Ketika dikonfirmasi kenapa ia enggan menyebut nama Boediono, Idrus menolak jika dirinya disebut enggan menyebut nama Boediono saat jumpa pers. Siapa yang takut? Keputusannya disepakati bersama, kok," elaknya.
Ia menegaskan, pimpinan pansus saat jumpa pers bersepakat agar yang menjelaskan terkait Boediono diserahkan ke Maruara Sirait agar ramai. Menurut dia, tak ada bedanya yang menyebut dirinya ataupun Maruarar Sirait.
Keengganan Idrus Marham saat menyebut nama Boediono memang memunculkan spekulasi yang beragam. Mulai dari Idrus takut menyebutkan, hingga terdapat rumor bahwa Partai Golkar memang sengaja hanya menargetkan Sri Mulyani dalam kasus dana talangan Bank Century, alias tidak sampai pada figur Boediono. Meski penjelasan Idrus menepis rumor tersebut, tetap saja publik bertanya, kenapa Idrus enggan menyebutkan nama Boediono? [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Netral
Rabu, 16 Desember 2009 | 10:21 WIB
yah Wakil-Rakyat kerja bagus, anggaran biaya dong , M- M an yah lembur boleh juga tuh ampe subuh jg okay, kan dpt bnyk uang-lembur besar2kan mslh biar seru pake dugaan segudang tujukan ke kepentingan partai masing2 akhir kata, kantong masing2 penuh hasil dari bnyk bicara dan bnyk pendapat, rakyat jadi deh dikadalin. MERDEKA
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.