inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Jangka Panjang Prospektif

BNBR Masih Sulit Terangkat

Headline
inilah.com /Dokumen
Oleh: Asteria & Ahmad Munjin
Rabu, 16 Desember 2009 | 13:47 WIB
INILAH.COM, Jakarta Rencana PT Bakrie & Brothers (BNBR) mencari pendanaan guna menambah modal ke anak usaha serta pengalihan repo ke pembiayaan perbankan, masih sulit mengangkat emiten ini di akhir tahun.
Hal ini diungkapkan analis investasi PT GMT Aset Manajemen Nico Simatupang. Menurutnya, aksi BNBR yang merilis seabrek aksi korporasinya, bisa saja dimaksudkan untuk mengangkat harga sahamnya di akhir tahun ini. Namun, ia menilai, saham BNBR belum bisa naik signifikan dalam jangka pendek.
Pasalnya, perseroan sedang terpapar sentimen negatif dari rights issue PT Bakrie Sumatera (UNSP) yang harganya di level Rp525, jauh di bawah harga pasar. Ini otomatis akan mendilusi harga saham sehingga menjadi sentimen negatif bagi grupnya, termasuk BNBR di akhir tahun ini, ujarnya kepada INILAH.COM, Rabu (16/12).
Seperti diketahui, induk usaha grup Bakrie, PT Bakrie & Brothers berencana menerbitkan obligasi tukar (convertible bond), menjual aset non inti dan menjajaki utang baru untuk dialokasikan kepada anak-anak perusahaannya yang akan melaksanakan right issue, yaitu ENRG dan UNSP.
Total dana yang akan disetor perseroan diperkirakan mencapai US$300 juta. BNBR menjelaskan, langkah ini diambil sebagai komitmen perseroan untuk menyerap saham baru yang diterbitkan anak usaha dan menjaga porsi kepemilikannya di perusahaan-perusahaan prospektif.
Selain itu, BNBR berencana menerbitkan convertible bond sekitar US$200-250 juta pada awal 2010. Sebesar 30-40% dari pendanaan tersebut akan digunakan refinancing, dan sisanya untuk eksekusi right anak usaha.
Nico menilai, posisi fundamental BNBR belum jelas, hingga strategi aksi korporasinya dijalankan, termasuk kelancaran divestasi dua anak usahanya dan penerbitan obligasinya. Pasalnya, obligasi itu akan sangat tergantung pada besaran bunga yang akan dibebankan ke BNBR.
Namun, lanjutnya, jika semua aksi korporasi BNBR berjalan lancar, dan perseroan mau memperbaiki kinerjanya, maka hal ini akan berimbas positif bagi pergerakan saham BNBR. Pasar akan memberikan reward bila kinerja BNBR bagus, tandasnya.
Semua aksi BNBR yang bertujuan mendapatkan pendanaan melalui capital market, diakui memang berisiko dan belum jelas. Namun, jika rencana ini tidak dijalankan, imbuhnya, maka harga sahamnya akan terkoreksi lagi.
Karena itu, rencana ini harus dimbangi dengan pelaksanaan sehingga harga sahamnya terangkat. Misalnya BNBR mendapatkan utang dengan bunga rendah. Setelah itu baru ada nilainya dan ada hasilnya,terangnya.
Saat ini utang BNBR untuk short term sudah banyak berkurang, karena banyak digeser ke utang jangka panjang. Ini berarti, dalam jangka pendek, perseroan tidak terlalu terbebani utang. Tinggal bagaimana pertumbuhan kinerja sehingga nantinya bisa membayar utang-utang tersebut, katanya.
Sedangkan untuk jangka panjang, BNBR akan mendapat angin segar dari rencana pengalihan repo ke pembiayaan perbankan. Investor menilai, hal ini akan mengurangi risiko fluktuasi harga saham, sehingga respon pasar terhadap grup-nya pun tidak akan terlalu volatile lagi.
Selain itu juga dapat mencegah terjadinya forced sell karena aman dari fluktuasi saham. Pasalnya, saat harga saham jatuh, aksi repo ini mengharuskan BNBR topup sendiri kreditornya, paparnya.
Adapun rencana perseroan meningkatkan kepemilikan sahamnya pada PT Bumi Resources (BUMI) menjadi 21% dan di PT Bakrieland Development (ELTY) menjadi 30% tahun depan, juga mendapat respon positif pasar.
Menurut Nico, rencana itu memang harus dilakukan perseroan. Keuntungan terbesar grup ini berada di saham berbasis komoditas yaitu BUMI. Saya kira arah bisnis Bakrie Group ke komoditas. Itu akan bagus bagi fundamental perseroan, timpalnya.
Per September 2009, saham BNBR yang ada di BUMI hanya 16,5%. Sedangkan untuk ELTY berkisar di angka 14,6%. Sedangkan anak usaha lain porsi sahamnya sudah di atas 40%, sehingga tidak ada penambahan lagi. Misalkan kepemilikan BNBR di PT Energi Mega Persada (ENRG) sudah mencapai 43,2% dan di PT Bakrie Telecom (BTEL) sebesar 49%.
Hal senada juga diungkapkan pengamat pasar modal Felix Sindhunata yang mengatakan, rencana BNBR meningkatkan kepemilikan saham pada anak usahanya memberi sentimen positif bagi perseroan. "Bagi BNBR, penambahan kepemilikan saham akan memberikan sentimen positif," ujar Felix, saat dihubungi terpisah.
Namun, lanjutnya, BNBR harus memaparkan secara detil rencana tersebut. Seperti apakah penambahan kepemilikan saham BUMI melalui pasar, dan di harga berapa? "Kemudian apakah BNBR akan mengambil dari pasar atau tender offer?" timpalnya.
Felix optimistis, BNBR mempunyai pilihan untuk pendanaan. Sehingga BNBR bakal mampu menanggung biaya dan bunga untuk menambah kepemilikan saham di BUMI. Selain itu, prospek BUMI tidak jelek karena kebutuhan batubara masih tinggi di Asia Pasifik. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.