INILAH.COM, Vientiane - Djoko Pramono selaku Wakil Komandan Kontingen Indonesia di SEA Games Laos 2009 menjelaskan, untuk mencapai prestasi yang ideal, pembinaan olah raga Indonesia butuh dana sebesar Rp 1,4 triliun.
"Keterbatasan dana yang terjadi selama ini mengakibatkan pembinaan olahraga sering terputus, yaitu hanya dibina pada saat pemusatan latihan (Pelatnas) setiap menjelang pertandingan multievent," kata Djoko kepada anggota Komisi X DPR RI, dr.Mahyudin, di Posko Indonesia di Vientiane, Laos, Rabu (16/12), seperti dilansir Antara.
Djoko juga menyoroti jumlah atlet yang kurang ideal, yakni hanya sekitar 400 atlet andal, dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta jiwa. Sebagai perbandingan, ia menyebut China membina 400 ribu atlet atau Australia yang mempunyai stok 200 ribu atlet.
"Kalau di Indonesia tersedia 2.000 atlet saja yang secara rutin mendapatkan pembinaan, tentu kami tidak akan kebingungan mendapatkan atlet yang siap pakai pada setiap menghadapi kejuaraan multievent," ujar Djoko didampingi Sekretaris Jenderal KONI, Rosihan Arsyad.
Sementara itu, Mahyudin yang dalam kunjungan dinasnya ini membawa serta istrinya mengatakan, masalah prestasi ini tanggung jawab banyak pihak. "Tidak bisa masing-masing berbicara sendiri-sendiri terutama menyangkut problema yang dihadapi," katanya.
Djoko Pramono juga prihatin dengan kenyataan bahwa lebih banyak atlet yang tidak mendapat pendanaan APBN, yakni sebanyak 165 orang. Sementara itu yang memperoleh pendanaan APBN tercatat hanya 159 orang.
Akibatnya, hingga Rabu siang, atlet yang dibiayai APBN lebih banyak meraih medali emas yakni 18 keping, sedangkan yang non-APBN hanya delapan keping.
"Biaya untuk atlet non-APBN umumnya ditanggung oleh Pengurus Besar atau Pengurus Pusat induk cabang olahraga tertentu, yang merasa yakin bahwa atletnya mampu mempersembahkan medali pada SEA Games kali ini," kata mantan Komandan Marinir tersebut.[boy]