inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Ditemukan, DNA Tertua di Dunia

Headline
istimewa
Oleh: Syamsudin Prasetyo
Jumat, 18 Desember 2009 | 17:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta Tidak perlu mengubah Jurasic Park menjadi kenyataan, tetapi ilmuwan telah menemukan DNA utuh berusia 419 juta tahun di dalam wadah penyimpanan garam kuno.

Material genetik ini, adalah yang tertua yang pernah ditemukan sepanjang sejarah manusia, terdapat di dalam garam. Diperkirakan penemuan bakteri ini adalah nenek moyang bakteri yang mungkin telah ada di antara bentuk kehidupan pertama di Bumi.

Ilmuwan juga telah memperbaiki material genetika dari lembah Michigan, area yang sama di mana penemuan bakteri ini ditemukan. Tetapi anehnya DNA ini sama dengan mikroba modern namun ilmuwan percaya sampel DNA ini sekarang telah bertransformasi dengan kondisi perubahan kondisi alam jutaan tahun.

Sebuah tim peneliti dipimpin oleh Jong Soo Park dari Universitas Dalhousie di Halifax Kanada telah menemukan enam segmen DNA identik yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Hasil kerja mereka dipublikasikan di dalam jurnal Geobiologi pada bulan Desember 2009.

Kami pergi ke lembah dan mengkoleksi kandungan DNA dari semua jenis bakteri dan membandingkan mereka dengan apa yang kami miliki sebelumnya, ujar Russel Vreeland dari Universitas West Chester Pennsylvania. Tetapi kemudian kami menemukan enam DNA bakteri yang sangat unik.

Tim tersebut juga menemukan asal muasal keluarga bakteri penyuka garam, yakni sebuah bakteri yang dapat menuntun ke arah nenek moyang kehidupan pada masa sangat awal.
Perwakilan pertama dari DNA bakteri yang ditemukan ini, Hallobacterium Salinarum, ditemukan hidup bersembunyi dalam kandungan garam di tubuh banteng tahun 1930.

Ilmuwan awalnya memperkirakan itu adalah spesies modern, tetapi ternyata punya hubungan dengan serangga yang hidup antara 121 dan 419 juta tahun lalu.
Vreeland juga melacak kulit asli banteng tersebut dan menemukan bahwa garam tersebut berasal dari tambang di Saskatchewan.

Batu di dalam pertambangan terbentuk ketika laut mengering sekitar 300 juta tahun lalu dan Vreeland menyangka bahwa bakteri H Salinarum menghabiskan seluruh hidupnya di dalam kristal garam mini yang tak mudah terurai, menunggu saat yang tepat untuk muncul.

"Ada bukti bahwa organisme ini entah bagaimana bisa bertahan hidup selama waktu yang luar biasa. Dan kemudian berkembang kembali di planet bumi dalam air asin laut setiap kali kondisi memungkinkan, kata Melanie Mormile dari Universitas Sains dan Teknologi Missouri.[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.