inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Ruhut Tuding TV One Kampungan

Headline
Ruhut Sitompul - inilah.com /Dokumen
Oleh: Irvan Ali Fauzi
Sabtu, 19 Desember 2009 | 07:10 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Meski diundang untuk acara Kabar Malam, Jumat 18 Desember 2009, Ruhut Sitompul mengaku tidak diberi hak bicara. Anggota komisi III fraksi Partai Demokrat ini menuding redaksi TV One tidak profesional.

Saat dihubungi INILAH.COM, Sabtu (19/12), Ruhut bercerita tentang kejadian di studio TV One di Wisma Nusantara, Hotel Nikko, Jakarta. Mereka kampungan, terbukti mereka gagal menyetting acara itu. Mereka gagal menon-aktifkan Menkeu Sri Mulyani, seloroh Ruhut diiringi gelak tawa kepuasan.

Ruhut mengaku puas dengan hasil pidato Presiden SBY yang menolak penonaktifan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Wakil Presiden Boediono. Semua pihak yang awalnya mendukung pencopotan sementara itu, berubah sikap menjadi menolak setelah konferensi pers presiden yang digelar di Kopenhagen, Jumat 18 Desember.

Mereka plin-plan cepat berubah sikap mendukung pidato presiden SBY. Padahal sebelumnya mereka ingin menonaktifkan Bu Ani dan Pak Boediono. Gue senang karena lihat mereka merengut, tegas pengacara yang juga artis sinetron itu.

Diberitakan sebelumnya, acara Kabar Malam di TV One, yang disiarkan live dari Hotel Nikko, Jakarta, Jumat (19/12), diwarnai dengan adegan Ruhut Sitompul mengancam tidak mau diwawancarai lagi di televisi itu.

Insiden ini terjadi di menit-menit terakhir penayangan, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat itu, pembawa acara Rahma Sarita akan menutup acara dan mengucapkan selamat malam pada penonton.

Tiba-tiba, Ruhut Sitompul, anggota DPR dari Fraksi Demokrat mengatakan:''Lho, kasih saya kesempatan bicara dong. Dari tadi kok mereka terus yang dikasih bicara. TV One jangan begitu. Kapan-kapan, saya nggak mau lagi diwawancara sama TV One.''

Ruhut memang terlihat kesal. Dalam acara yang dimulai pukul 22.00, tema yang dimunculkan adalah tentang imbauan Pansus Hak Angket kasus Bank Century pada Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani untuk non-aktif. Di sela acara itu, sempat ditayangkan secara live konferensi pers Presiden SBY dari Denmark.

Usai menayangkan konferensi pers SBY, Rahma Sarita mewawancarai narasumber lain yang juga dihadirkan di acara itu, Maruarar Sirait. Maruar, yang akrab dipanggil Ara, menanggapi bahwa itu adalah hak presiden.

Ruhut hanya diberi sedikit kesempatan, untuk kemudian Rahma mengomentari bahwa pernyataan Presiden SBY itu sudah bisa diduga sebelumnya.

Saat itulah Ruhut terlihat agak kesal. Dia langsung mengatakan:''Kasih dong kesempatan pada saya. Kita kan mesti ngasih tahu sama rakyat. Kok yang dikasih kesempatan yang di sana. Saya kok nggak. Kapan-kapan, saya nggak mau lagi diwawancarai TV One. Apa karena TV One merasa gagal tidak bisa menon-aktifkan Menkeu,'' kata Ruhut. [bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
2 Komentar
Des @ Minggu, 20 Desember 2009 | 13:19 WIB
Para petinggi demoktad harus hati-hati perihal Bang Ruhut melontarkan kat tuduhan yang tidak mendasar, supaya jangan smapai menjadi Tongkat pembawa rebah dala Partai demokrad.
anton sanjaya @ Minggu, 20 Desember 2009 | 10:43 WIB
Memang terlihat kualitas moderator/pembawa acara di TVOne pada setiap debat, payah dan parah sih. Bukannya saya ingin membela bang ruhut, tapi memang selama ini saya dan publik melihat memang seperti dilakukan sengaja oleh TVOne untuk tidak menyeimbangkan formu diskusi ataupun siaran, dan terkesan memojokkan salah satu pihak tanpa memberikan kesempatan pada pihak yang memang sepertinya sengaja ingin dipojokkan untuk memberikan pendapat atau penjelasan, jujur saya moderator dan pembawa acaranya terkesan tidak professional untuk debat-debat tsb, dugaan orang ini memang di setting, sengaja untuk itu, lama kelamaan malas jadinya nonton TVOne, yang jadi masalah utama adalah ini menjadi pembodohan publik (publik diarahkan ke opini sesuai kemauan Media !!) dan ini jadi membenarkan dugaan tentang rapat di dharmawangsa yang akan menggunakan TVOne sebagai alat untuk provokasi. Repot kalau media sudah jadi alat politik dan bisa dibeli, gak ada lagi kebenaran di TVOne.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.