INILAH.COM, Jakarta - Perundingan iklim di Kopenhagen untuk mengurangi emisi karbon di seluruh dunia memang bergolak. Tapi satu hal yang terlewatkan yakni peningkatan keasaman laut.
Tidak ada negosiasi dalam perjanjian pembahasan khusus efek penyerapan karbon di lautan, di mana hasil studi menunjukkan absorbsi karbon adalah kunci yang merusak makhluk berkerangka keras di lautan.
Samudra menyerap sekitar 25 persen dari efek gas rumah kaca dunia yang dipompa ke atmosfir dari aktivitas manusia setiap tahun, kata sebuah laporan PBB yang baru dirilis di perundingan Kopenhagen minggu ini.
Karbon yang larut dalam lautan juga membentuk asam karbonat, mengangkat tingkat keasaman air dan merusak segala macam makhluk bercangkang keras, serta memicu reaksi berantai yang mengancam rantai makanan yang mendukung kehidupan laut, termasuk mamalia lamban di sepanjang 276 mil pantai laut dari California dan pantai barat AS.
Pada tahun 2100 sekitar 70 persen karang air dingin - kunci perlindungan yang memberi makan pada habitat ikan populer komersial yang juga makanan untuk anjing laut dan berang-berang - akan terkena efek berbahaya.
Tingkat keasaman laut meningkat 150 persen hanya dalam setengah abad, menurut laporan Sekretariat Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati.
"Peningkatan dramatis ini 100 kali lebih cepat daripada perubahan keasaman yang pada umumnya terjadi di dalam lingkungan laut selama 20 juta tahun terakhir, memberi sedikit waktu untuk sistem biologi adaptasi evolusioner," katanya.
Keasaman rata-rata permukaan air laut diperkirakan akan meningkat dengan sangat drastis pada akhir abad dan akan mempengaruhi kehidupan laut, menurut Peter Brewer, ilmuwan senior di Institut Riset Air Monterey Bay
"Total jumlah karbon dioksida yang telah dimasukkan ke dalam lautan saat ini adalah sekitar 530 miliar ton," ujar Brewer.
"Nah, itu naik sekitar 1 juta ton per jam. Anda tidak bisa terus melakukan hal tersebut tanpa memiliki beberapa dampak, tambahnya.
Dan Brewer, seorang anggota panel ilmiah tentang perubahan iklim, mengatakan itu hanya bagian dari cerita.
"Masalahnya ada lebih dari satu hal terjadi," katanya, mengutip dampak lain perubahan iklim yang mendatang misalnya, "musim dingin yang lebih ringan, sehingga laut dalam semakin kurang oksigen di sana."[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !