inovasi portal berita
Kamis, 23 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.9,059.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Aset Syariah Lebih Riil

Oleh: Ahmad Munjin
Rabu, 16 April 2008 | 23:57 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Penyebab utama resesi AS belakangan ini adalah akibat transaksi ekonomi yang tidak didasarkan pada aset yang riil. Subprime mortgage adalah contoh nyata. Hal ini tidak akan terjadi, jika AS menganut sistem keuangan Islam, karena memiliki aset yang dijaminkan dalam setiap transaksinya.

Ekonom senior Rizal Ramli, mengatakan, yang membedakan ekonomi Islam dengan sitem keuangan konvensional adalah sifatnya yang konservatif, yakni adanya unsur kehati-hatian. Transaksi syariah mengharuskan adanya aset yang dijaminkan.

"Karena itulah, sistem keuangan Islam tidak gampang terkena 'gonjang-ganjing' moneter. Sistem ekonomi ini membagi risiko baik di masa untung maupun rugi, tidak ada yang dirugikan," papar Rizal Ramli dalam Semiloka Nasional dan Kongres Ke-VII, Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (16/4).

Keadaan semacam ini, berbeda dengan sistem keuangan konvensional. Rizal menyebut perbedaan itu dengan istilah 'bank bayangan' (shadow banking) di mana transaksinya tidak didukung oleh aset yang riil. "Aset yang dijadikan transaksi perbankan konvensional tidak jelas, di mana dan dalam bentuk apa," katanya.

Hal itu pula yang menyebabkan 'gonjang-ganjing' ekonomi AS dalam kasus subprime mortgage, ketika transaksi keuangannya tidak didasarkan pada aset yang riil. Karena itu, saat di AS mengalami resesi, perbankan syariah di beberapa negara tidak terkena dampaknya.

"Sementara dana-dana petrodollar penghasil minyak di Timur Tengah tidak diinvestasikan di Amerika ataupun Eropa, akibat kekhawatiran mereka atas tidak adanya jaminan aset yang riil," katanya.

Karena itulah perbankan syariah menjadi harapan dalam putaran kedua (second recycling) ekonomi global. Pada putaran pertama, ekonomi dunia dikuasai kapitalisme.

Lebih jauh, Rizal menjelaskan, sistem bagi hasil (profit-loss sharing) di perbankan syariah sangat baik untuk menstimulus pertumbuhan aset Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan bagi pengusaha pemula. "Artinya, memberikan keleluasaan bagi mereka seluas-luasnya," katanya.

Sementara itu, Mulia Siregar, Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan Perbankan Syaraih Bank Indonesia mengatakan, sistem keuangan Islam merupakan paradigma baru di dunia global sekaligus menjadi impian bagi semua umat manusia. "Karena sitem ekonomi ini adalah yang terbaik dari sisi etis," katanya.

Hanya saja perbankan syariah harus menyesuaikan diri dengan era reformasi teknologi informasi. Menurutnya, perbankan syariah juga harus menyadari masa transisi ekonomi global dari liberalisme menuju wellfare state.

"Liberalisme ekonomi memiliki implikasi pada kekuasaan pemerintah yang terbatas dan gencarnya privatisasi," katanya. Perbankan syariah juga ditantang untuk bisa bertahan (survive) dalam sistem ekonomi global.

Lebih lanjut Mulia menjelaskan bahwa aspek keadilan, keseimbangan, kemaslahatan yang menjadi landasan moral dalam ekonomi Islam sesungguhnya memiliki kesamaan dengan nilai-nilai yang tertuang dalam ekonomi modern.

"Bahkan George Soros, yang dinilai sebagai seorang kapitalis sejati pun masih memiliki penilaian, fundamentalisme pasar adalah ideologi yang paling berbahaya," katanya meskipun ideologi kapitalis masih menyisakan aspek moral.

Begitu juga dengan Amartya Sen yang mengkritik ekonomi pasar bebas sebagai sebuah sistem yang tidak memiliki moral. "Ekonomi pasar tidak memiliki moral," kata Mulia menirukan kata-kata Sen. "Maksimalisasi pendapatan (income) tidak memiliki korelasi positif dengan keadaban (civility). Itulah kritik Sen."

Karena itu, prinsip-prinsip ekonomi syariah yakni keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan sesungguhnya memiliki kesamaan dengan gagasan Soros dan Amartya Sen. Juga, dengan gagasan Adam Smith tentang 'moral sentiment' (sentiment moral).

Namun, Musthafa Edwin Nasution, praktisi perbankan syariah dari Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Fakultas Ekonomi UI memberikan catatan. Meski dalam teori ekonomi modern mementingkan aspek moral tapi dalam praktiknya menjadi kabur, akibat konsentrasi pada akumulasi laba.

Di atas semua itu nilai-nilai etik harus menjadi basis dalam semua transaksi syariah. Sistem keuangan Islam harus menjelaskan bagaimana mengoperasikan nilai-nilai etis itu dalam pasar modal syariah, saham syariah, asuransi syariah, reksadana syariah, dan instrumen syariah lainnya.

Sehingga kemudian tidak terjebak untuk mengutuk perbankan konvensional 'haram'. Pasalnya, berbicara halal-haram tidak akan pernah ada habisnya. Karena itulah, perbankan syariah harus dijelaskan dengan bahasa universal dan tentu saja ilmiah. [E1/P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.