INILAH.COM, New York - Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke, terpiih menjadi 'Person of The Year' versi majalah TIME. Ia dinilai figur menonjol dalam pemulihan krisis perekonomian negaranya.
Kemampuannya mengemudikan institusi bank sentral AS, The Federal Reserve, tak perlu dipertanyakan. Bernanke baru saja terpilih kembali menduduki bangku gubernur pada periode keduanya ini. Orang kepercayaan mantan Presiden George W Bush ini, kembali mendapatkan jabatannya pada pemerintahan Barack Obama.
"Bernanke telah memimpin Fed melalui salah satu krisis finansial terburuk yang dihadapi bangsa ini dan dunia," demikian Obama mengatakan alasan kembali menunjuk Bernanke.
Posisi itu bukannya diraih pria berusia 56 tahun ini dengan mudah. Sebagai Person of The Year dari TIME saja, ia harus mengalahkan Obama, Ketua Parlemen AS Nancy Pelosi, pendiri Apple Inc., Steve Jobs, hingga komandan pasukan Barat di Afghanistan, Jenderal Stanley McChrystal.
"Resesi ekonomi adalah kisah terpenting tahun ini. Tanpa Ben Bernanke, kita semua akan melalui yang lebih buruk lagi," ujar Managing Editor TIME, Richard Stengel.
Sepak terjang Bernanke diawali ketika ia mengepalai Fakultas Ekonomi di universitas bisnis paling top AS, Princeton. Jabatan itu ia pangku sejak 1996 hingga 2002. Pria berjenggot itu memutuskan untuk mengambil cuti panjang karena sebuah tawaran besar di depan matanya.
Doktor yang dilahirkan di keluarga Yahudi ini diajak bergabung dalam Dewan Gubernur Federal Reserve System alias bank sentral, pada 2002 hingga 2005. Sebuah pintu besar kembali terbuka untuknya ketika Juni 2005 ia didaulat sebagai Pemimpin Tim Penasihat Ekonomi Kepresidenan.
Untuk itu, Bernanke harus merelakan karirnya di Princeton. Maka per 1 Juli 2005 ia berhenti mengabdi untuk universitas ekonomi paling bergengsi di Amerika tersebut. Pada akhirnya, 1 Februari 2006 menjadi tonggak sejarah baru dalam kehidupan pria sederhana itu.
Ia resmi diangkat sebagai anggota dewan gubernur untuk periode 14 tahun. Pada saat bersamaan, ia juga resmi menjadi Gubernur The Fed yang menggantikan Alan Greenspan. Pria ini juga membuat gebrakan dalam pidatonya yang bertajuk 'Deflation: Making Sure It Doesn't Happen Here'.
Dalam pidato itu dikenal 'Bernanke Doctrine' yakni sebuah kebijakan yang digunakan The Fed untuk mencegah terjadinya deflasi di dalam negeri. Bernanke menjabarkan tujuh langkah yang harus dilakukan Fed guna mencegah hal itu dan sukses besar.
Dalam doktrin itu juga tercantum pengetahuan luas Bernanke mengenai Great Depression yang menyerang Amerika pada 1930-an. Hal inilah yang juga menjadi salah satu pertimbangan Obama menunjuk kembali Bernanke yang masa jabatannya usai pada 31 Januari 2010.
Namun demikian, jabatan yang dipercayakan padanya ini sempat goyah pada November 2008, pasca kemenangan Obama dalam pilpres AS yang fenomenal. Timbul gosip bahwa Bernanke akan digantikan salah satu dari dua ekonom yang juga berbakat, Tim Geithner dan Lawrence Summers.
Bernanke menghembuskan sedikit napas lega ketika Summers akhirnya ditunjuk sebagai Ketua Konsul Penasihat Ekonomi Nasional yang dibentuk Obama. Sementara Geithner yang Kepala Cabang The Fed New York, diangkat menjadi Menteri Keuangan AS.
Kelegaan itu akhirnya tiba ketika 24 Agustus lalu, Obama mengumumkan takkan mengganti Bernanke. Seperti mantan pejabat Bank Indonesia yang terganjal kasus, Bernanke juga pernah mengalami hal serupa. Pada 23 April lalu, ia memenuhi panggilan Jaksa Agung New York Andrew Cuomo.
Pria kelahiran 13 Desember ini pernah diduga terlibat dalam kasus korupsi akusisi lembaga perbankan Merrill Lynch oleh Bank of America. Tak jauh berbeda dengan kasus Bank Century, mantan Menkeu Henry Paulson juga diduga terlibat.
Namun belakangan, tidak ada bukti keterlibatan keduanya dalam kasus itu. Pengaruh Bernanke dalam kebijakan moneter AS sangat besar. Ia terlibat dalam hampir semua keputusan penting. Terutama menyelamatkan negaranya dari keterpurukan akibat krisis. [ast/mdr]