INILAH.COM, Jakarta Pasar game RI bisa mencapai Rp500 miliar per tahun. Namun game yang menjadi idola lebih banyak mengandung kekerasan dan pornografi. Game lokal bisa menjadi solusinya.
Pasar game di Indonesia sangat potensial. Pendapatan game bisa mencapai Rp500 miliar per tahun dan memancing provider layanan game maupun operator internet untuk terjun ke bisnis ini.
Salah satunya adalah Telkom yang menyediakan 130 konten game dengan akses hingga mencapai 1 Mbps. Telkom menargetkan 20 ribu orang menjadi pengguna layanan SpeedyGames di 2010 dari target total pelanggan Speedy sebanyak 2,2 juta.
Kami ingin membangun industri game dengan fokus utama adalah telekomunikasi, informasi, media dan pendidikan, ujar Direktur Konsumer Telkom Indonesia Nyoman G Wiryanata, di Jakarta, kemarin.
Di Indonesia diperkirakan terdapat 8 juta pengguna game baik yang online maupun offline. Tapi sebagian besar pengguna game ini adalah anak-anak di bawah umur 18 tahun yang mencapai 80%.
Dihubungi terpisah, Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait mengharapkan operator dan provider konten game agar dapat memilah konten game yang mendidik atau tidak. Pelaku bisnis juga tidak hanya mengutamakan bisnis, tapi tanggung jawab sosial juga harus diperhatikan.
Game yang menjadi idola anak lebih banyak mengandung sifat kekerasan dan pornografi. Dampaknya akan berbahaya bagi anak, karena bisa terjadi peniruan, ujarnya.
Ia menyatakan orang tua harus memberikan arahan ekstra kepada anak-anaknya mana yang layak dan mana yang tidak. Sedangkan provider layanan konten harus cerdas dalam memberikan layanan, karena anak adalah aset bangsa.
Aris mendukung jika layanan konten game yang berunsur budaya bangsa asli dan dikerjakan oleh anak bangsa, serta sifatnya edukatif untuk lebih didorong perkembangannya.
Ketika konten games mengandung unsur perubahan tingkah laku ke arah kebaikan anak, sekaligus mengangkat budaya bangsa maka dapat diterima. Namun jika sebaliknya, sudah selayaknya kita tolak, tegasnya.
Head of Digital Business Telkom Widi Nugroho mengatakan, Telkom ingin lebih mengembangkan konten lokal anak bangsa daripada konten asing. Hal itu karena banyak anak bangsa yang memiliki kemampuan setara di bidang industri kreatif.
Namun, kata Widi sangat disayangkan dari 130 konten yang disediakan Telkom, baru belasan yang dikerjakan provider konten game lokal, selebihnya asing. Salah satu contoh game buatan lokal yang kami dukung servernya adalah nusantaraonline.com, imbuhnya. [mdr]