INILAH.COM, Jeddah - Pemerintah Arab Saudi sebagai negara kaya minyak menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2010 mengalami defisit US$18,7 miliar.
Dalam publikasi resminya, pekan ini pemerintah Saudi menjelaskan mereka membutuhkan anggaran untuk menutup defisit dalam membiayai roda ekonomi, demikian dikutup dari Republika. Dengan pembiayaan itu, Saudi ingin ketergantungannya pada hasil dari emas hitam.
Negara berlimpak minyak ini merancang pendapatannya juga ditopang oeh sektor riil. Untuk itu APBN tahun depan diusahakan dapat menaikkan daya beli domestik, pembangunan infrastruktur, dan sejumlah proyek padat karya. Tercatat, akan berdiri 1.200 sekolah baru, ribuan beasiswa, pusat kesehatan, 92 rumah sakit, dan sejumlah klub sosial.
Departemen Keuangan Saudi pun menghitung, tahun depan anggaran penerimaan mereka sebesar US$125,3 miliar. Sementara belanja negara mencapai US$144 miliar. Defisit US$18,7 miliar ini merupakan defisit kedua berturut-turut.
Tahun ini, Saudi menderita defisit US$12 miliar. Pertama kalinya sejak 2002, defisit terakhir mereka. Anggaran digunakan untuk membangun masjid megah di Mekkah dan Madinah, subsidi jaminan sosial, dan subsidi beasiswa pendidikan universitas.
Awalnya, defisit 2009 diperkirakan sekitar 17,3 miliar dolar AS. Penyelamat defisit tahun ini adalah tingginya harga minyak pada akhir tahun, setelah pada awal 2008 sempat melemah drastis.
Arab Saudi adalah negara yang sangat bergantung pada minyak mentah. Sebesar 90 persen pendapatan negaranya diperoleh dari minyak mentah. Karena ini pula, pemerintah Dinasti Saud lumayan kesulitan menetapkan anggaran, sebab harga minyak mentah bergejolak di pasar internasional. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Saudi kemungkinan hanya tumbuh 0,15 persen. Angka ini turun jauh dari posisi tahun lalu yang sebesar 4,2 persen. Dengan inflasi 2009 sebesar 4,2 persen.
Kepala Ekonom Banque Saudi Fransi-Credit Agricole Group, John Sfakianakis, mengatakan anggaran yang dirilis Depkeu Saudi menggunakan ukuran harga minyak 48 dolar AS per barel. Lebih rendah dari patokan harga minyak saat ini, 70 dolar AS per barel. "Arab Saudi harus fokus pada ekonomi dalam negeri. Mereka butuh pertumbuhan ekonomi yang stabil untuk menciptakan lapangan kerja lebih besar. Ini kuncinya," kata Sfakianakis. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !